Air Mata adalah Bahan untuk Menenun Pelangi yang Terindah

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh: Kenia Oktavianie

Pagi ini saya terbangun karena suara seseorang menangis di kamar asrama saya. Sedikit kaget, karena tangisannya begitu kencang di pagi hari yang masih sangat sunyi. Selidik punya selidik, saya mengetahui penyebab ia menangis, ternyata salah satu keluarganya meninggal dunia.

Kejadian pagi ini membuat saya berpikir tentang air mata. Saya teringat pembicaraan saya beberapa hari yang lalu dengan seorang teman. Ia membagikan percakapannya dengan seorang ibu yang suaminya di rawat di rumah sakit karena stroke. Ibu ini menyampaikan pengamatannya selama ia menjaga suaminya berbulan-bulan di rumah sakit. Ia menemukan bahwa orang yang kebanyakan dirawat di rumah sakit karena penyakit stroke adalah seorang laki-laki. Lalu ibu ini membuat sebuah analisa yang menurut saya masuk akal.

Ya, kebudayaan kita menuntut laki-laki untuk tetap kuat dalam kondisi apapun. Jangan menangis kalau kamu benar-benar seorang laki-laki, mungkin kata-kata inilah yang sering kali kita dengar dari mulut orang tua. Hal ini membuat sebagian besar laki-laki yang hidup dalam pola didikan seperti ini bertumbuh menjadi pribadi yang memendam perasaan dan kesedihan. Akibatnya tingkat stress meningkat, dan timbul penyakit karena emosi yang tertahankan. Mungkin inilah yang menyebabkan wanita lebih kuat, mereka lebih bebas mengekspresikan perasaan mereka tanpa tekanan.

Hal ini membuat saya berpikir, sesungguhnya apa yang salah dengan air mata? Bukankah Allah menciptakan air mata untuk suatu tujuan? Dan benarkah ada perbedaan antara pria dan wanita dalam hal menangis? Apakah air mata mengindikasikan kelemahan?

Saya berusaha mencari beberapa penelitian ilmiah tentang air mata. Salah satu yang saya dapatkan adalah ini, "Seseorang yang menangis bisa menurunkan level depresi karena dengan menangis, mood seseorang akan terangkat kembali. Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena emosi mengandung 24% protein albumin yang berguna dalam meregulasi sistem metabolisme tubuh dibanding air mata yang dihasilkan dari iritasi mata" (sr: indohot.org). Luar biasa bukan? Allah memang menciptakan air mata dengan sebuah tujuan!

Lalu apa yang salah dengan air mata? Apakah air mata mengindikasikan kelemahan?

Alkitab sendiri menyatakan dengan gamblang, pria-pria gagah perkasa yang menangis. Tengoklah Daud, prajurit hebat yang berhasil mengalahkan Goliat. Dia menangis. Bahkan di dalam Mazmur jelas menyebutkan, "Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku." Daud menangis, bahkan setiap malam.

Ayub menangis dalam kesengsaraannya, "mukaku merah karena menangis, dan bulu mataku ditudungi kelam pekat (Ayub 16:16). Petrus menangis karena menyadari ia telah berbuat dosa dengan mengkhianati Yesus. Yusuf menangis ketika ia bertemu kembali dengan saudara-saudaranya. Dan Yesus pun menangis (Yohanes 11:35).Ya, pria-pria itu menangis.

Lalu apa yang salah dengan tangisan dan air mata? Tidak ada bukan? Setiap orang berhak untuk menangis, tidak peduli gender, usia, atau jabatan sosial. Mengapa? Karena kita masih manusia. Bukankah tangisan adalah reaksi dari perasaan yang alami, sama halnya dengan tertawa? Bahkan Pengkotbah 7:3 mengatakan, "Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega."

Air mata mengindikasikan kelemahan? Apa yang salah dengan itu? Bukankah setiap manusia memang lemah? Bukankah ini manusiawi? Air mata justru menunjukkan kerapuhan kita sebagai manusia yang terbatas dan kebutuhan kita akan Pribadi yang tidak terbatas.

Lagi pula bukankah segala sesuatu ada waktunya, "Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari (Pengkotbah 3:4). Berikanlah waktu pada kesedihan, jika memang itu yang sedang kamu alami. Tidak ada yang salah dengan itu, Allah menciptakannya untuk suatu tujuan yang mulia. Penyangkalan akan kesedihan, sesungguhnya malah membuat manusia jatuh ke dalam ketimpangan emosi yang lebih parah.

Ada penggalan kata-kata indah yang saya baca di buku karya Max Lucado,

Air mata melegakan otak yang panas,

seperti hujan pada awan-awan bermuatan listrik.

Air mata melepaskan kesengsaraan hati yang tak terpikulkan,

seperti luapan air yag mengurangi tekanan banjir pada bendungan

Air mata adalah bahan yang dibuat di surga untuk menenun pelangi yang terindah.

Pada akhirnya, Allah memang mengizinkan kita menangis, dan itu wajar karena kita masih manusia. Bahkan Ia mengahargainya. Namun sebagai seorang Kristen yang dewasa, alkitab mengatakan dalam 1 Tes 4:13b, "supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan." Dalam tangisan karena dukacita yang terdalam pun, ketahuilah bahwa pengharapan di dalam Allah tidak pernah berubah.

Pujilah Tuhan untuk setiap kesempatan untuk menangis. Pujilah Tuhan untuk setiap kesempatan berduka cita. Pujilah Tuhan untuk pengharapan yang Dia berikan.

Jadi, sedang ingin menangis? Lakukan saja! Tidak ada yang salah dengan itu :) Allah menghargainya.