Anak

Artikel-artikel tentang dunia anak, pendidikan anak, sekolah minggu, dll

(Artikel lain tentang anak dapat dibaca di situs PEPAK)

9 Tips Memberi Nama Anak

Memberikan nama untuk anak itu susah-susah gampang. Salah-salah nama bisa jadi beban buat si Anak. Maka hati-hatilah dalam memberikan nama untuk anak tersayang. Karena nama akan disandang seumur hidupnya.

  • Nama itu mengandung doa.
    Nama anak itu cermin harapan orang tua. Nama itu mengandung Doa.Tetapi doanya yang singkat-singkat saja. Kalau terlalu panjang nanti dikira lagi bernazar atau berkomitmen sama Tuhan. Kalau dipanggil bukannya nengok, malah bilang "Amiinn.."
  • Nama jangan nyusahin orang Kelurahan
    Nama anak mudah dibaca dan mudah ditulis. Meskipun tampaknya bagus,jangan pakai huruf mati yang digandeng-gandeng atau didobel- dobel (mis. Lloyd,Nikky, Thasya dll). Biasanya sama petugas Kelurahan akan terjadi salah tulis dalam pembuatan Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, KTP dll.Nah... nggak enaknya lagi kalo kita minta revisi biasanya kena biaya lagi... dan prosesnya lama lagi.
  • Nama jangan cuma satu kata
    Minimal ada First Name, Nick Name dan Family name gitu loh.... Ini penting terutama kalo pas lagi ngurus Paspor atau Visa. Nggak jadi berangkat ke Amrik hanya gara-gara namanya cuma=20 Prakoso atau Pamuji atau Paryono khan esiaan...
  • Nama jangan terlalu panjang
    Nama yang panjang bererot bisa bikin susah si pemilik nama. Disamping susah ngingetnya, juga ngerepotin waktu ngisi formulir pendaftaran masuk Perguruan Tinggi Negeri (dulu UMPTN). Itu lho..yang ngitemin buletan-buletan pakai pensil 2B. Capeek khaan... Nama panjang seperti Siti Hartati Riwayati Mulianingsih Adiningrum Mekar Berseri Sepanjang Hari.... adalah sangat-sangat not-recommended.
  • Nama anak bersifat internasional
    Anak kita hidup dimasa depan, di era globalisasi dimana hubungan dengan dunia internasional amat sangat intens. Jadi jangan mempersulit anak dengan nama-nama yang sulit di-eja. Nama Saklitinov misalnya orang Jepang nyebutnya Sakuritino, orang Sunda bilang aktinop orang Amrik bilang Sechlaytinove... Syusah khaaannn Padahal maksudnya Sabtu Kliwon Tiga November...
  • Ketahuilah arti nama anak
    Ketahuilah arti nama anak. Jangan memberikan nama hanya karena enak diucapkan atau bagus ditulisnya. Nama Jalmowono memang sepintas enak diucapkan dan bagus kalo ditulis tetapi ketahuilah bahwa Jalmowono itu artinya Orang Utan.
  • Jangan pakai nama artis.
    Nama artis memang bagus-bagus, cuma masalahnya kalau artis itu kelakuannya baik... lha kalau jadi bahan gosip melulu khan jadi beban juga buat si anak. Lagian pakai nama artis itu tandanya anda gak kreatif dalam bikin nama.
  • Abjad huruf pertama nama anak.
    Huruf pertama "A" pada nama anak ada enak gak enaknya. Gak enaknya kalau pas ada ujian/test/wawancara sering dipanggil duluan. Gak sempet nanya-nanya ama temannya. Tapi kadang-kadang juga pas giliran dapat pembagian apa gitu, dapetnya juga sering duluan. Sebaiknya ambil huruf pertama itu antara D sampai K. Cukupan lah... Huruf depan Z... wah.. biasanya adanya dibawah...
  • Jangan sok Kebarat-baratan
    Jangan memberi nama anak dengan bergaya kebarat-baratan, biar dibilang keren. Kudu diinget, anda lahir dibumi Indonesia, orang Indonesia, kultur ya tetap orang Indonesia. Kalau nama keindo-indoan, tapi mukanya ya melayu-melayu juga, malu sendiri kan, anaknya ya ortunya.. Lagian kalo kejepit toh bilangnya "adawww...." bukan "Oh my God.."
  • Aku Benci Guruku

    Walaupun tulisan ini dari seorang anak remaja (sangat subyektif), namun bila dibaca dengan lapang dada merupakan kritik yang cukup mengena bagi profesi seorang guru.

    Apa yang Kau Beri untuk Anakmu?

    Oleh: Sion Antonius

    Satu sore, anak saya yang pertama datang menghampiri dan kemudian berkata bahwa ia kehilangan kaos tim basketnya. Ia berkata bahwa kaos tersebut sudah dimasukkan kedalam tas, namun ketika diperiksa di rumah hanya ada celananya saja, kaos atasnya entah dimana. Ia menceritakan hal tersebut dengan gaya yang sedih dan bingung. Sebagai orang tua maka saya dapat mengerti apa yang diinginkannya, ia ingin supaya tidak dimarahi dan ingin ditolong, sebab beberapa hari kemudian ia harus ikut kompetisi bola basket antar sekolah, maka sangatlah tidak mungkin jika anak kami tidak memiliki kaos tersebut. Dengan kondisi seperti itu maka saya sebagai orang tua harus bijaksana dan menolongnya dengan serius.

    Bagaimana saya menolongnya? Pertama adalah dengan tidak memarahinya. Saya tidak perlu memarahinya sebab dia sudah dihukum oleh perasaan bersalah dan rasa bingung kalau tidak dapat ikut tim bertanding. Kedua saya menyuruh dia untuk coba mencari di sekolah barangkali ada yang menemukan dan jika tidak ditemukan juga harus berunding dengan gurunya bagaimana memperoleh pengganti kaosnya yang hilang. Ketiga adalah dengan turun tangan sendiri mencarikan kaos pengganti untuk anak saya.Pertolongan yang saya lakukan ini bukan tanpa tujuan. Lalu apa tujuannya? Saya akan menjelaskan dibagian lain dari tulisan ini.

    Setelah lewat beberapa hari, cara kedua yaitu mencari di sekolah dan meminta pertolongan guru tidak berhasil, maka tinggal cara ketiga yang menjadi harapan. Saya (ayahnya) berpikir tidak terlalu sulit untuk bikin satu buah kaos asal ada dananya. Ternyata dugaan saya meleset, tidak ada yang mau bikin hanya satu kaos saja, mereka bersedia membuat minimal 12 potong kaos dan waktunya tidak bisa cepat sedangkan waktu yang tersedia tinggal 3 hari. Dengan demikian pertolongan yang kami lakukan bukan lagi urusan yang gampang. Ada pengorbanan maksimal yang harus dilakukan, memang ini menjadi lebih pas dengan tujuan untuk mengatasi persoalan ini.

    Mulailah kami dengan mencari bahan baku untuk kaosnya. Bahannya tidak sederhana karena ada kombinasi beberapa bahan, setelah bahan ada, kami mencari tukang jahitnya. Mencari penjahit bukan pekerjaaan gampang karena semuanya menolak order kami. Ketika perasaan khawatir tidak ada yang bersedia menjahit mulai timbul, harapan kembali muncul kepada 1 orang langganan kami. Orang ini memang menjadi target kami tetapi karena rumahnya jauh jadi diletakan pada pilihan terakhir, dan ketika ditelpon dia menyatakan bersedia, memang orang tersebut akhirnya yang menjahitnya. Dengan adanya orang yang bersedia menolong tidak lantas membuat hati tenang sebab kami saat ini sudah mengambil alih persoalan sang anak, jadi kalau kaos itu tidak selesai maka dia akan kecewa dan mungkin menuduh orang tuanya tidak serius menolong. Soal lainnya adalah apakah bisa dibuat kaos yang mirip dengan yang hilang karena yang menjahitnya bukan spesialis pembuat pakaian olahraga? Namun kami berusaha tetap optimis dan berpikir positif bahwa apapun yang terjadi semua harus bisa menerima, karena memang ada resiko dari setiap tindakan.

    Kaos tersebut akhirnya selesai dan sungguh akhir yang sangat melegakan, karena hasilnya sungguh tidak ada bedanya dengan yang asli. Melangkahlah anak kami dengan pasti untuk pertandingan pada esok harinya.

    Esok sorenya ketika saya tiba dirumah, anak kami langsung menceritakan teman-teman dan gurunya yang kagum bagaimana dia bisa mendapatkan kaos pengganti dan perasaaan gembiranya untuk kemenangan timnya atas lawannya. Saya berpikir inilah saatnya untuk mengungkapkan apa yang harusnya direnungkan dan diendapkan dalam hati anak kami atas apa yang terjadi dari hilangnya kaos hingga didapatkannya kaos pengganti. Ketika makan malam saya bilang pada dia bahwa orang tuanya mau bersusah payah menolong membuatkan kaos, itu adalah wujud cinta kasih dan perhatian terhadap kesulitan anaknya, namun ada yang lebih dari itu yaitu Tuhan yang sudah menyediakan segalanya untuk kita nikmati, maka hidup kita harusnya adalah hidup yang senantiasa mengingat dan bersyukur kepadaNya. Inilah yang menjadi tujuan saya menolongnya, yaitu keinginan supaya dia sejak kecil menyadari hidupnya berkaitan dengan Tuhan. Kalau orang tuanya yang tidak sempurna bisa menolong ketika dia menghadapi masalah, maka Tuhan yang Maha sempurna pasti juga tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya di dunia.

    Banyak sekali orangtua yang kuatir untuk urusan dunia bagi anak-anaknya. Mereka dicarikan sekolah yang bagus, dikursuskan berbagai bahasa asing, ditambah kursus pelajarannya, diajarkan cara-cara yang paling kreatif didalam menghasilkan kakayaan. Orang tua memang pantas untuk kuatir, sebab hal-hal dunia ini memang menjadi tolok ukur keberhasilan dan posisi seseorang di dalam masyarakat. Orang tua seringkali merasa puas apabila sudah mencukupi kebutuhan pangan, sandang, pendidikan dan rekreasi anak-anaknya.. Ketika seorang anak mendapatkan nilai-nilai yang bagus di sekolah maka orang tua sudah puas hingga langit yang ketujuh. Namun sedikit sekali orangtua yang mendidik anaknya dalam soal-soal keagamaan, mereka tidak peduli bagaimana kualitas dari kerohanian anaknya.. Orang tua beralasan soal-soal keagamaan bukanlah tanggung jawabnya, melainkan tanggung jawab para pemimpin agama.

    Orang tua yang tidak mendidik anaknya untuk mengenal Tuhan dengan serius adalah bukti bahwa merekapun tidak serius dalam berhubungan dengan Tuhannya. Padahal berurusan dengan Tuhan adalah masalah yang sangat serius melebihi masalah apapun, kecuali memang orang tersebut ateis. Mengapa kita harus serius berhubungan dengan Tuhan? karena suatu saat ketika sudah selesai di dunia ini, maka setiap manusia harus menghadap Sang Khalik untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya di dunia, setelah itu akan ditempatkan di sorga atau neraka. Penempatan di sorga atau neraka ini tidak ada batas waktunya (selamanya), lain dengan hidup manusia selama di dunia yang ada batasnya. Jadi apabila kita oleh Sang Khalik ditempatkan di neraka, siapa yang harus kita salahkan?jawabannya adalah diri sendiri. Kembali kepada anak-anak yang menjadi tanggung jawab orangtuanya, apabila seorang anak mendapat tempat di neraka maka orang tuanya turut bersalah apabila selama masa hidupnya di dunia tidak mengajarkan tentang Tuhan secara serius kepada anaknya

    Jadi dari cerita bagaimana kami menolong anak yang kaos tim basketnya hilang tersebut, saya sebagai ayahnya ingin memakai setiap kesempatan di dalam peristiwa sehari-hari untuk membuat anak tersebut semakin mengenal dan tahu siapa Tuhan yang dipercayainya. Pendidikan kerohanian harus menjadi investasi yang terbesar dalam kehidupan berkeluarga. Membuat seorang anak menjadi seorang yang dewasa dalam kerohanian membutuhkan waktu yang banyak, tidak mungkin melalui satu atau dua peristiwa kemudian anak-anak kita menjadi seorang yang taat kepada Tuhan.

    Di akhir tulisan ini saya ingin menceritakan tekad seorang teman ketika sama-sama menuntut ilmu di perguruan tinggi. Dia adalah anak seorang pegawai negeri di bagian yang basah. Suatu kali kami berdiskusi tentang korupsi, kemudian dia membuat pernyataan yang sampai saat ini saya masih mengingatnya dengan jelas, katanya, Saya kalau sudah lulus mau korupsi, sebab ayah saya juga korupsi. Menurut saya itu cita-cita yang aneh, karena kami sedang menuntut ilmu untuk menjadi sarjana hukum. Bagaimana mungkin seorang yang harusnya menegakkan hukum malah mau menjadi orang yang melawan hukum. Kuncinya adalah dia pasti tidak dididik dengan serius dalam kerohaniannya.

    Bagai Gendewa terhadap Anak Panah

    Penulis : Eka Darmaputera

    Kita telah membahas betapa keras, tandas, dan lugasnya perintah Tuhan kepada anak-anak agar menghormati orang tua mereka. Dijanjikan-Nya pahala paling mulia bagi yang mematuhinya, dan diancamkan-Nya hukuman paling mengerikan bagi para pelanggarnya. Ya!

    Namun, ini tidak boleh kita jadikan alasan untuk membenarkan tindak kesewenang-wenangan para orang tua terhadap anak-anak mereka! Jangan mentang-mentang!

    Orang tua, menurut kesaksian alkitab, tidak hanya memiliki "hak", sementara anak-anak cuma mempunyai "kewajiban". Tidak! Indahnya dan adilnya etika Alkitab adalah bahwa semua perintah Tuhan senantiasa punya dua sisi. Selalu dua arah. Timbal balik. Tak pernah berat sebelah.

    Karena itu di samping janji berkat, ada ancaman laknat. Di samping "hak", ada "kewajiban". Orang tua, jelas mempunyai hak. Itu tentu! Tapi mereka juga punya kewajiban. Sedang anak-anak? Mereka punya kewajiban, itu so pasti. Tapi, jangan lupa, mereka juga punya hak!

    * * *

    DASAR teologis untuk etika timbal-balik tersebut, adalah sebuah prinsip bahwa "anak-anak" bukanlah milik "orang tua" mereka. Anak-anak adalah anugerah, karunia, pemberian, hadiah Allah. Yang di"titip"kan kepada orang tua untuk dilahirkan, diasuh, dipelihara, dan dibesarkan.

    Orang tua yang dipilih memang eksklusif. Tuhan tidak memilih orang lain, kecuali ibu saya yang satu itu, untuk melahirkan saya. Namun, orang tua tidak mempunyai hak eksklusif atas anak-anak mereka.

    Hak "eigendom" atau "hak milik" atas anak-anak itu tetap pada Allah. Anak-anak itu tetap milik Tuhan sepenuhnya. Eka Darmaputera adalah anak pak Pitoyo, ya, tetapi 100 persen milik Tuhan.

    Atau meminjam tamsil yang terkenal dari Kahlil Gibran, "orang tua" adalah sekadar "gendewa" di tangan pemanah. Anak-anak adalah anak-anak panah. Sedang pemanah itu tak lain adalah sang Dia. Tuhan, sang Pemilik sejati.

    Gendewa tentu penting. Tanpanya, mustahil anak-anak panah bisa melesat. Tapi gendewa tidak menentukan arah si anak panah. Yang menentukan adalah kehendak sang pemanah, dan kemampuan si anak panah.

    Atau, dengan istilah yang lebih kontemporer, gendewa hanya berfungsi sebagai semacam "fasilitator", yang memungkinkan anak panah itu meluncur ke sasaran dengan sebaik-baiknya. Jadi, sekali lagi, gendewa penting. Tapi jangan takabur, lalu menganggap diri terlalu penting. Gendewa bukan Tuhan! Gendewa bukan segala-galanya!

    * * *

    MEMAHAMI relasi antara anak, orang tua, dan Tuhan, sebagai "hubungan segi-tiga" seperti tersebut di atas membawa kita pada kesimpulan betapa hubungan orang tua dan anak itu lebih banyak diwarnai oleh kesadaran akan "kewajiban", ketimbang oleh kesadaran akan "hak".

    Anak-anak punya "kewajiban" terhadap orang tua. Dan sebaliknya, orang tua juga tak kurang punya "kewajiban" terhadap anak-anak.

    Hubungan mereka tidak dijiwai oleh roh saling menagih dan saling menuntut hak. Tetapi oleh kerelaan memeriksa diri, apakah "kewajiban" telah dipenuhi.

    Perhatian utama orang tua tidak boleh ditujukan pada apakah anak-anak telah membayar "kewajiban" mereka. Artinya, apakah mereka memenuhi syarat untuk disebut sebagai "anak-anak yang baik". Yang lebih disukai Tuhan adalah, apabila yang bersangkutan mau dengan jujur ber-introspeksi. Bertanya kepada diri sendiri, apakah mereka telah menjadi "orang tua yang baik".

    Perintah Tuhan agar anak-anak menghormati orang tua amat jelas. Sangat afirmatif. Tapi apakah karena itu, maka orang tua lalu ber"hak" menagih ini atau menuntut itu dari anak-anak mereka? Apakah orang tua ber"hak" mengklaim pembayaran kembali atas semua yang telah mereka kerjakan bagi anak-anak mereka?

    Alkitab memberi jawaban yang mungkin mengagetkan, yaitu TIDAK! Melahirkan, memelihara, dan membesarkan anak-anak adalah perbuatan yang luhur dan mulia, penuh pengorbanan dan (mungkin) kesakitan.

    Tapi ini, menurut Alkitab, sama sekali bukanlah "jasa". Bukan pula "kebaikan" atau "kebajikan", melainkan sekadar menjalankan atau memenuhi "kewajiban".

    Orang tua yang tidak melakukannya, adalah orang tua yang buruk. Namun orang tua yang dengan setia melakukannya, adalah orang tua yang sekadar melaksanakan kewajiban. Boleh kita puji. Layak kita syukuri. Tapi tidak lebih dari itu. Mereka tidak serta merta jadi "pahlawan", yang layak memperoleh bintang jasa.

    * * *

    BAHWA orang tua layak memperoleh hormat dan bakti yang tulus dari anak-anaknya, ini adalah perintah Tuhan sendiri. Suatu "kewajiban" yang tidak dapat ditawar-tawar. Orang tualah yang telah memungkinkan mereka lahir, hidup dan berkembang di bumi ini. Tanpa orang tua, mereka tidak ada.

    Terlebih-lebih bila kita ingat bahwa, berbeda dengan kebanyakan hewan, masa ketergantungan manusia sejak dilahirkan pada perlindungan orang tua, relatif sangat panjang. Bertahun-tahun.

    Seekor penyu cukup menyimpan telurnya di bawah pasir, lalu bisa segera kembali ke laut. Dan pada waktunya, bayi-bayi penyu akan keluar, kemudian tanpa bantuan orang tua, pelan-pelan merayap ke laut -- sendiri.

    Bandingkanlah ini dengan bayi manusia! Mungkin baru setelah berusia kurang lebih 15 tahun, seorang anak betul-betul bisa hidup mandiri. Ini hendak menegaskan kembali, betapa bermaknanya peran orang tua bagi "survival" anak-anak mereka! Hampir-hampir tak tergantikan (= indispensable) oleh apa pun dan oleh siapa pun!

    Namun, toh orang tua tidak berhak menagih hormat atau menuntut ganti rugi dari anak-anaknya. Ada yang harus dilakukan oleh anak-anak kepada orang tua, ya, tapi ini lebih merupakan "kewajiban anak-anak" untuk melaksanakannya, ketimbang "hak orang tua" untuk menuntutnya!

    Tidak pantas bila orang tua menuntut ketaatan tanpa reserve dari anak-anak mereka berdasarkan prinsip "imbal jasa". Dan tidak patut, orang tua memaksa anak-anak mereka mengorbankan kemandirian dan kedirian mereka sebagai bentuk pembayaran kembali dari pengorbanan yang telah mereka berikan.

    Satu-satunya yang berhak menagih dan menuntut ini adalah Tuhan! Di luar itu, orang tua hanya ber"kewajiban" membesarkan anak-anaknya.

    Dan sebagai timbal-baliknya, anak-anak ber"kewajiban" menghormati orangtua mereka. Artinya: orang tidak saling menuntut "hak", tetapi saling melaksanakan kewajiban masing-masing.

    Alangkah nyaman dan tenteramnya hidup bersama, bila ia disemangati oleh kerinduan semua pihak untuk sekadar memenuhi kewajiban masing-masing. Sekiranya para pejabat mengonsentrasikan seluruh upaya mereka, hanya untuk memberi pengayoman kepada rakyat. Dan andaikata rakyat juga hanya mengonsentrasikan seluruh potensi mereka, melulu untuk tujuan-tujuan yang produktif dan konstruktif.

    Ketika para pejabat tidak cuma berpusing-pusing menyuap sini menyuap sana, memikirkan intrik ini atau taktik itu, demi mempertahankan kekuasaan mereka. Dan sebaliknya, masyarakat tidak memboros-boroskan enersi, dengan berdemonstrasi setiap hari, memprotes itu memprotes ini, tanpa tahu persis apa yang mereka perjuangkan.

    * * *

    KARENA itu, di samping menegaskan, "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan", Paulus dengan tak kurang kuatnya juga menekankan, "Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya" (Kolose 3:20-21).

    Bila anak-anak punya "utang kewajiban" terhadap orang tua, demikianlah orang tua pun punya "utang kewajiban" terhadap anak-anak. Orang tua punya kewajiban untuk sejak dini menanamkan disiplin kepada anak-anak mereka. Membuat anak-anak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mengajar mereka mengenal batas -- apa yang boleh dan apa tidak boleh. Ini kadang-kadang dapat dilakukan dengan lembut, tapi tidak jarang harus dilakukan dengan keras.

    Tapi melakukan tindakan "keras", sungguh berbeda dengan melakukan "kekerasan". Yang satu bisa disebut "tegas", sedang yang lain lebih tepat disebut "buas". Yang satu dilakukan dengan "sakit", yang lain dilakukan untuk "menyakiti".

    "Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya". Boleh bertindak "keras", bilamana perlu. Tapi tetap dalam cinta kasih. Dan yang lebih utama lagi, dengan "respek". Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan oleh orang tua adalah, ia bertindak "keras" sekadar untuk menunjukkan "who is the boss".

    Untuk menuntut respek. Padahal, kita tahu, orang akan menghormati kita, bila kita menghormati dia. Anak-anak kita, tanpa perlu diberitahu, sudah tahu siapa "boss" mereka. Yang kadang-kadang hendak mereka uji adalah, apakah "boss" tersebut benar-benar pantas menerima respek mereka.

    Dan akhirnya, untuk menjawab pertanyaan, "Anak-anak saya itu kurang apa lagi sih, kok seperti tidak ada puasnya. Padahal semua kebutuhan mereka terpenuhi. Uang saku mereka berlebih-lebihan. Apa lagi?"

    Astaga, "Apa lagi?", itukah pertanyaan Anda? Saudara, anak-anak Anda tidak cuma memerlukan "entertainment" atau hiburan. Tapi "encouragement" atau dorongan. "Supaya jangan tawar hatinya". Nah, yang ini, sudahkah Anda berikan?

    Sumber: http://www.glorianet.org/ekadarmaputera/ekadbaga.html

    Dapatkah Anak Kecil Datang Pada Kristus Untuk Diselamatkan?

    Penulis : Henry Morris dan Martin Clark

    Banyak kelompok Kristen maupun orang-orang skeptis bertanya dapatkah anak kecil diselamatkan. Pertanyaan skeptis tersebut muncul karena mereka meragukan keselamatan bagi setiap orang, apalagi bagi mereka yg tidak mengerti teologi dengan segala kerumitannya. Orang tua Kristen pun seringkali was-was karena mereka memahami keselamatan namun harus menunggu sampai anak-anak mereka cukup dewasa untuk mengerti dan meyakini keselamatan tersebut.

    Selama masa pelayanan-Nya sebagai manusia, Yesus Kristus telah menyambut dan memberkati anak-anak Markus 10:13-16 menceritakan hal menarik tentang anak-anak. "Lalu orang banyak membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-muridNya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepadaKu, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil ia tidak akan masuk kedalamnya. Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tanganNya atas mereka Ia memberkati mereka."

    Saat anak-anak kecil dibawa pada Yesus, mereka memang masih terlalu kecil untuk mengerti betapa luar-biasanya pertemuan itu, tapi mereka tentu dapat merasakan kehangatan kasih Yesus. Dan setelah mereka dewasa, mereka pasti membalas kasih-Nya. Kata Ibrani yang digunakan untuk "anak kecil" pada ayat tersebut, menerangkan bahwa anak-anak tersebut benar-benar masih sangat kecil, jadi gagalkah upaya Kristus? Tentu tidak, kata Ibrani yang sama juga digunakan dalam II Timotius 3:15 yaitu bahwa sejak masa kecilnya Timotius telah "mengenal kitab suci yang memberi (nya) hikmat dan menuntun kepada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus."

    Ada yang berpendapat bahwa seorang anak harus mencapai usia tertentu (sering disebut sebagai "usia dewasa") agar dapat membuat keputusan rohani dalam hidupnya. Seringkali usia dua belas atau tiga belas tahun dijadikan patokan karena orang Yahudi melakukan upacara khusus di usia tersebut. Tanpa memandang usia tertentu, sebaiknya kita berpegang bahwa jika seorang anak dapat mengerti kebenaran sederhana tentang injil, maka pada usia itu pula segala perbuatanya harus dapat di pertanggung-jawabkan pada Tuhan.

    Anak-anak mudah sekali dipengaruhi orang dewasa, karenanya perlu dicermati agar mereka benar-benar memiliki pendiriannya sendiri. Anak-anak dapat dipaksa "menikah" atau bergaul dengan teman lainnya hanya demi menyenangkan orangtua. Hal demikian terjadi begitu saja tanpa rasa menyesal ataupun percaya pada Yesus Kristus. Namun demikian, jika seorang anak sadar akan dosa dan bertobat serta percaya pada Kristus, dia dapat dan akan diselamatkan, berapapun usianya. Kemarahan Kristus pada para murid mungkin karena mereka menggangap remeh anak kecil.

    Khotbah gereja mula-mula menekankan pesan keselamatan yang juga melibatkan anak-anak. Dengan mengacu pada "generasi ini" Petrus berkata, "Bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil Tuhan Allah kita". (Kisah 2:39). Janji apakah yang sedang dibicarakan Petrus? Petrus berbicara mengenai janji Allah tentang keselamatan bagi semua orang yang percaya Kristus adalah Anak Allah dan menerimaNya dengan iman dan pertobatan. (Kisah 2:22-42).

    Bahkan orang dewasa diingatkan untuk bertingkah laku seperti anak-anak. Saat pria "dewasa" sibuk memikirkan siapa yang berhak mendapat tempat tertinggi, Kristus berkata, "Jika kamu tidak bertobat dan tidak menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk kedalam Kerajaan Surga. Dan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga" (Matius 18:3-4). Dalam banyak hal, anak kecil lebih gampang menerima kebenaran rohani dibanding orang dewasa.

    Anak-anak dalam lingkungan Kristen biasanya lebih cepat menerima Kristus dalam hidupnya dibanding anak-anak lain yang bukan dari lingkungan Kristen, dan alasannya sangatlah jelas. Keluarga Kristen sejati memiliki alkitab sebagai landasan dan mereka mengajarkannya pada anak-anak. Karena "iman datang dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Allah" (Roma 10:17), orang yang sering diajar mengenal Firman akan lebih cepat menerimaNya dibanding orang yang jarang atau yang tidak pernah mendengar Firman. Karena itu, Tuhan memberikan berbagai perintah dalam Alkitab agar orang tua lebih memperhatikan pertumbuhan rohani anak-anak mereka. Diatas segalanya, adalah gegabah menetapkan umur tertentu bagi Roh Kudus yang berkuasa mendatangkan pertobatan dan iman.

    Tuhan dapat dan pasti akan memanggil anak-anak untuk menerima keselamatan. Dia memanggil Samuel pada usianya yang masih sangat muda, hingga bahkan pada mulanya imam Eli pun tidak menyangka (I Samuel 3). Rencana keselamatan Tuhan begitu sederhana sehingga anak-anak akan mampu mengerti dan menerimanya.

    Diterjemahkan oleh: Linda Rooroh
    Dikutip dari The Bible Has the Answer, diterbitkan oleh Master Books, 1987

    Einstein: Mendidik Manusia atau ...?

    Penulis : Ratna Megawangi

    SEPERTI umumnya para gadis remaja, anak kedua kami yang barusia 15 tahun ingin sekali rambutnya di-rebonding, padahal rambutnya sudah lurus. Berhubung tarifnya mahal, saya suruh ia pergi ke sebuah salon di daerah Cibubur yang relatif murah. Rupanya ia sudah mengetahui informasi melalui internet mengenai salon-salon yang terkenal bagus, atau jelek dalam urusan rebonding, bahkan sampai dampak obat yang dipakai terhadap kualitas rambut. Ia menolak pergi ke salon tersebut, karena informasi yang ia baca dalam sebuah blog internet, kualitas rebonding di salon tersebut tidak bagus.

    Berhubung saya hanya mau membayar 50 persen saja, ia melakukan browsing secara intensif, dan akhirnya ia memutuskan untuk memakai jasa sebuah salon yang ta-rifnya cukup murah, tetapi kualitasnya bagus.

    Rupanya anak terkecil kami pun (usia 7 tahun), sudah mulai menjadi seorang yang tidak mudah dipengaruhi juga. Ia bersama kakaknya "berkonspirasi" untuk mempengaruhi kami agar mau memelihara anjing di rumah. Mereka sebut beberapa jenis anjing yang bagus, lagi- lagi belajar dari internet, dan akhirnya memutuskan untuk membeli anjing yang pintar untuk dilatih serta bersahabat dengan anak-anak, yaitu jenis Golden Ret River.

    Saya sendiri baru mendengar nama jenis tersebut, tetapi menurut informasi harganya cukup mahal. Kemudian saya ajak mereka ke sebuah tempat di daerah Menteng untuk membeli anjing di pinggir jalan yang pasti harganya lebih murah.

    Mereka mengetahui betul bentuk anjing jenis tersebut, sehingga ada 4 penjual yang gagal membohongi mereka. Sampai yang mirip sekali pun, tetapi karena bentuk kupingnya berbeda, mereka mengetahuinya.

    Setelah bernegosiasi, dan kedua anak kami mau patungan menyumbang dari uang tabungannya Rp 500.000, akhirnya saya menyerah untuk membelinya di pet shop yang harganya Rp 2 juta, karena kemurnian ras anjing tersebut dijamin oleh sertifikat.

    Dalam beberapa hal, saya akui anak-anak kami lebih pintar dan well- informed daripada orangtuanya, sehingga kami sering "kalah" ketika harus mengambil keputusan karena informasi yang diperolehnya lebih lengkap. Anak pertama kami yang sekarang sudah semester 7 di Fakultas Hukum UI, sejak kelas 1 SMA juga sudah memutuskan sendiri untuk masuk ke IPS, sehingga ia tidak mau "membuang" waktunya untuk belajar sesuatu yang ia tidak akan dipakainya, seperti Fisika, Kimia dan Biologi. Akibatnya, nilai yang diperolehnya hanya pas-pasan saja.

    Diminati Siswa

    Namun, waktunya ia lebih banyak gunakan untuk belajar sesuatu yang lebih menarik minatnya, seperti belajar komputer, organisasi, dan membaca segala macam buku yang tidak ada hubungannya dengan tugas sekolah. Kelas 1 SMA (tahun 1999) ia mengajak beberapa kawannya untuk merintis bidang ekstra kurikuler baru di sekolahnya, yaitu FORTEK (forum teknologi), yang semuanya diusahakan melalui survey kelayakan (ada 100 kuesioner tersebar), seminar, dan presentasi di depan sponsor, sehingga memperoleh 6 perangkat komputer. Bidang tersebut sampai sekarang masih ada, bahkan paling banyak diminati siswa.

    Rasanya tidak ada satu pun guru yang memujinya, karena memang angka rapornya biasa-biasa saja, bahkan ada juga nilai merahnya (boro-boro dapat ranking). Namun baginya tidak ada masalah, dan ia memang berpikir strategis. Menurutnya, apabila sistem ujian nasional dan masuk perguruan tinggi adalah seperti sekarang, maka dengan sistem kebut drilling beberapa bulan terakhir sebelum ujian, katanya masih bisa ia kejar.

    Jadi, ketika hampir seluruh kawan-kawannya sudah sibuk ikut les sekolah dan bimbingan tes sejak kelas 1 SMA, bahkan sampai banyak yang stres, ia menolak untuk mengikutinya karena mau memakai waktunya untuk mempelajari hal-hal yang diminatinya sendiri. Baru ketika 6 bulan menjelang ujian akhir SMA, ia mau ikut les.

    Sejak SMP ia memang sudah senang membaca buku-buku serius seperti karangan Maurice Bucaille, buku-buku filsafat Jabariah dan Badariah, bahkan sekarang ia sedang senang-senangnya mengikuti perkembangan harga pasar saham dan pasar uang, karena ia menginvestasikan semua tabungannya yang Rp 3 juta di reksadana. Semuanya ini ia peroleh dari belajar sendiri, bukan dari sekolahnya.

    Perjalanan anak-anak kami masih panjang, sehingga kami belum tahu apakah mereka berhasil nantinya. Namun paling tidak, kami telah berusaha untuk mempersiapkan mereka untuk menjadi manusia yang berpikir kritis dan mandiri, tidak mudah percaya dan diprovokasi, bisa mencari informasi dan mengolahnya sendiri, sehingga nantinya bisa mencari solusi terhadap berbagai masalah dalam hidupnya, serta mudah beradaptasi dengan lingkungan yang cepat berubah.

    Tentunya juga dengan membekali mereka tentang prinsip-prinsip nilai dan etika. Terus terang, kami memang "melarang" anak-anak kami untuk mendapatkan ranking, karena sistem ini akan membuat seseorang terperangkap untuk mempertahankannya, sehingga mereka hanya mampu berpikir dangkal, pragmatis, dan tidak kritis, akibat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal yang jawabannya sudah baku sesuai dengan rumus.

    Menurut Albert Einstein, dengan hanya mengajarkan anak menghafal mata pelajaran, tidak ada bedanya dengan melatih seekor anjing. Menurut Einstein, "With his specialized knowledge-more closely resembles a well-trained dog than a harmoniously developed person."

    (Ternyata benar, dengan cara mengulang berkali-kali, anak kami sudah dapat melatih anjingnya yang berusia 4 bulan untuk duduk, loncat, dan salaman). Bukan berarti metode menghafal dan drilling tidak perlu (kognitif), tetapi dimensi lainnya juga harus dikembangkan (sosial, emosi, motorik, spiritual, dan kreativitas), sehingga seluruh dimensi manusia dapat berkembang secara seimbang (harmonis).

    Namun, semua metode pelajaran di sekolah hanya diarahkan agar anak- anak dapat menjawab ujian, yang bentuknya memang hafalan, sehingga potensi-potensi lainnya tidak berkembang secara harmonis.

    Albert Einstein sudah memberikan warning akan bahayanya sistem pendidikan yang terlalu menjejalkan anak dengan banyak mata pelajaran, yang menurutnya dapat membuat anak berpikir dangkal, bukan seorang yang independent critical thinker (New York Times, October 5, 1952).

    Menurutnya, "It is also vital to a valuable education that independent critical thinking be developed in the young human being, a development that is greatly jeopardized by overburdening him with too much and with too varied subject (point system). Overburdening necessarily leads to superficiality. Teaching should be such that what is offered is perceived as a valuable gift and not as a hard duty."

    Kalau kita melatih seseorang untuk mempunyai fisik kuat, baik dengan olahraga atau berjalan kaki, maka dengan kekuatan fisiknya ia akan fit bekerja di mana saja yang memerlukan kekuatan fisik. Begitu pula, apabila kita mempersiapkan seorang anak untuk dapat berpikir kritis, selalu ingin tahu, dan mampu mengolah informasi, maka ia akan berhasil dalam pekerjaan apa saja yang memerlukan orang berpikir.

    Apalagi di masa depan apabila semakin banyak orang yang mempunyai akses terhadap internet (lima tahun yang lalu mungkin kita tidak membayangkan kalau hand phone bisa dipakai secara massal sampai ke desa-desa. Hal yang sama sangat mungkin terjadi dengan internet, seperti yang sudah terjadi di Korea).

    Artinya, tanpa menghafal pun, segala informasi dengan mudah dapat diakses.

    Mungkin ilmu yang didapat di sekolah banyak yang tidak terpakai dalam kehidupan anak kita nanti. Apalagi jaman akan terus berubah dengan cepat, sehingga apa yang dipelajari sekarang ini, mungkin saja tidak terpakai dalam kehidupannya di masa depan nanti. Padahal sudah dipelajari dan dihafalkan mati-matian, sampai banyak yang stres dan mengalami masalah kejiwaan.

    Menurut Peter Senge, sekolah-sekolah yang mendidik siswanya untuk patuh begitu saja kepada pihak otoritas dan mengikuti peraturan tanpa mempertanyakannya - tidak bersikap kritis - akan gagal menyiapkan para siswanya untuk menghadapi dunia tempat tinggal mereka yang kerap berubah.

    Jadi, kalau kita mau menyiapkan anak-anak kita untuk cakap hidup di zamannya kelak, jangan biarkan mereka terperangkap dengan cara yang hanya bisa berpikir sesuai dengan yang telah diprogram (hafalan dan drilling), yaitu tidak kreatif, tidak kritis, tidak berani mengambil risiko, tidak proaktif, dan apatis.

    Kasihan mereka, karena mereka harus hidup di masa depan yang begitu cepat berubah, sangat kompleks, serta penuh tantangan dan beban. Seperti kata Einstein, mereka adalah manusia, bukan well-trained dog.

    Kisah Seorang Pencuri

    Penulis : Conan

    Suatu ketika, tinggallah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu, terdiri dari orangtua, dan kedua anak laki-lakinya. Kekayaan mereka sangatlah berlimpah. Lumbung mereka, penuh dengan tumpukan padi dan gandum. Ladang mereka luas, lengkap dengan ratusan hewan ternak. Namun, pada suatu malam, ada pencuri yang datang ke lumbung mereka. Sebagian besar padi yang baru di tuai, lenyap tak berbekas. Tak ada yang tahu siapa pencuri itu. Kejadian itu terus berulang, hingga beberapa malam berikutnya. Akan tetapi, tak ada yang mampu menangkap pencurinya.

    Sang tuan rumah tentu berang dengan hal ini. "Pencuri terkutuk!!, akan kuikat dia kalau sampai kutangkap dengan tanganku sendiri." Begitu teriak sang tuan rumah. "Aku akan menangkap sendiri, biar rasakan pembalasanku."

    Kedua anaknya, mulai ikut bicara. "Ayah, biarlah kami saja yang menangkap pencuri itu. Kami sudah cukup mampu melawannya. Kami sudah cukup besar, tentu, pencuri-pencuri itu akan takluk di tangan kami. "Ijinkan kami menangkapnya Ayah!"

    Tak disangka, sang Ayah berpendapat lain. "Jangan. Kalian masih muda dan belum berpengalaman. Kalian masih belum mampu melawan mereka. Lihat tangan kalian, masih tak cukup kuat untuk menahan pukulan. Ilmu silat kalian masih sedikit. Kalian lebih baik tinggal saja di rumah. Biar aku saja yang menangkap mereka." Mendengar perintah itu, kedua anaknya hanya mampu terdiam.

    Penjagaan memang diperketat, namun, tetap saja keluarga itu kecurian. Sang Ayah masih saja belum mampu menangkap pencurinya. Malah, kini hewan ternak yang mulai di ambil. Ia sangat putus asa dengan hal ini. Dengan berat hati, di datangilah Kepala Desa untuk minta petunjuk tentang masalah yang dialaminya. Diceritakannya semua kejadian pencurian itu.

    Kepala Desa mendengarkan dengan cermat. Ia hanya berkata, "Mengapa tak biarkan kedua anakmu yang menjaga lumbung? Mengapa kau biarkan semua keinginan mereka tak kau penuhi? Ketahuilah, wahai orang yang sombong, sesungguhnya, engkau adalah "pencuri" harapan-harapan anakmu itu. Engkau tak lebih baik dari pencuri-pencuri hartamu. Sebab, engkau tak hanya mencuri harta, tapi juga mencuri impian-impian, dan semua kemampuan anak-anakmu. Biarkan mereka yang menjaganya, dan kau cukup sebagai pengawas." Mendengar kata-kata itu, sang Ayah mulai sadar. Pada esok malam, diijinkanlah kedua anaknya untuk ikut menjaga lumbung. Dan tak berapa malam kemudian, ditangkaplah pencuri-pencuri itu, yang ternyata adalah penjaga lumbung mereka sendiri.

    ***

    Teman, pernahkan Anda bertanya kepada anak kecil tentang cita-cita dan harapan mereka? Ya, bisa jadi kita akan mendapat beragam jawaban. Suatu ketika mereka akan menjadi pilot, dan ketika lain mereka memilih untuk menjadi dokter. Suatu saat mereka akan mengatakan ingin bisa terbang, dan saat lain berteriak ingin dapat berenang seperti ikan. Walaupun pada akhirnya kita tahu hanya ada satu jawaban kelak, namun, pantaskah jika kita melarang mereka semua untuk punya harapan dan impian?

    Begitulah, seperti halnya dalam cerita diatas, ada banyak pencuri-pencuri impian yang berkeliaran di sekitar kita. Mereka, mencuri semua impian, dan merampas harapan-harapan yang kita lambungkan. Mereka, selalu menghadang setiap langkah kita untuk mencapai tujuan-tujuan hidup.

    Bisa jadi, pencuri-pencuri itu bisa hadir dalam bentuk orangtua, teman, saudara, atau bahkan rekan kerja. Namun, yang sering terjadi adalah, kita sendirilah pencuri harapan dan impian itu. Kita sendirilah pencuri yang paling besar menghadang setiap langkah. Kita sering temukan dalam diri, perasaan takut, ragu, dan bimbang dalam melangkah.

    Terlalu sering kita mendengarkan suara kecil yang mengatakan, "Saya tidak bisa, saya tidak mampu." Atau, sering kita berucap, "Sepertinya, saya tak akan mungkin mengatasinya." "jangan, jangan lakukan ini sekarang, lakukan ini nanti saja. Terus seperti itu. Kegagalan, sering kita jadikan peniadaan dalam melangkah.

    Namun, teman, seringkali bisa keliru. Kegagalan, adalah sebuah cara Allah untuk menunjukkan kepada kita tentang arti kesungguhan. Kegagalan, adalah pertanda tentang sebuah usaha yang tak akan berakhir. Kegagalan, adalah sebuah pelajaran tentang bagaimana meraih semua harapan yang terlewat.

    Memang, tak ada kesuksesan yang diraih dalam semalam. Karena itu, yakinlah, dengan kesabaran kita akan dapat meraih semua harapan dan impian. Maka, yakinlah dengan semua impian kita. Jika kita mampu, dan nurani kita mengatakan setuju, jangan biarkan orang lain mencuri impian itu--terutama oleh diri kita sendiri.

    Dan teman, jangan jadikan diri kita pencuri-pencuri impian orang lain. Yakinlah dengan itu semua, sebab Allah selalu akan bersama kita.

    Membangun Pribadi Anak yang Penuh Daya Juang

    Penulis : Roswitha Ndraha

    Topik ini tercetus dari ayah saya waktu dia menonton talkshow Oprah Winfrey di TV beberapa bulan lalu. Oprah mewawancarai Lisa-Marie Presley, putri mendiang raja rock tahun 60-an, Elvie Presley. Sebagai anak orang yang terkenal, kehidupan Lisa-Marie pastilah tidak terkendala oleh uang. Tapi, apakah dia bahagia? Ayahnya mati tidak wajar. Pernikahannya dengan Michael Jackson yang seumur jagung itu, terus-menerus menjadi sorotan pers. Oprah menanyai Presley bagaimana dia menjalani hidup sebagai anak orang terkenal dan apa akibat hal-hal itu bagi keluarganya saat ini.

    Sekarang Lisa-Marie adalah single parent dari tiga anak (sorry, kalau saya salah mengingat jumlah anak ini). Sebagai bintang, mudah baginya meninggalkan ketiga anaknya di tangan pembantu dan baby sitter. Tetapi, dalam wawancara itu dia mengatakan, "Saya ingin anak-anak saya mengerti pekerjaan saya, bagaimana saya berjuang, bagaimana saya hidup. Saya tidak ingin membesarkan anak-anak saya seperti saya dibesarkan dulu. Saya ingin mereka punya daya juang yang besar dan tidak mudah putus asa." Untuk itu Lisa-Marie membawa anak-anaknya ke mana pun dia pergi. Dia ingin anak-anaknya menyaksikan sendiri dan meneladani perjuangan hidup ibu mereka.

    "Itu dia!" kata ayah kepada saya beberapa waktu kemudian, "yang diperlukan anak-anak zaman sekarang: menjadi pribadi yang berdaya juang dan tidak mudah menyerah."

    Saya sendiri sebagai anak, menyaksikan bagaimana ayah saya berjuang menjadikan dirinya "orang" (mengingat latar belakang keluarga ayah saya yang sangat miskin di Nias sana) dan bagaimana dia membangun keluarganya. Tentu saja ini tidak lepas dari peran ibu saya juga (secara status sosial ibu saya jauh di atas ayah saya). Tapi bagaimana ayah saya berjuang untuk sekolah, tidak putus asa walau tidak dihargai orang, jujur biarpun diancam, tetap bekerja walaupun tidak digaji. itu adalah cermin bagi kami. Tidak perlu lagi kata-kata.

    Kalau dibilang hidup sekarang makin mudah untuk anak-anak kita, mungkin itu ada benarnya. Orang tua bekerja di luar rumah dan adanya pembantu yang membereskan semua kekacauan, mungkin salah satu penyebab. Saya baru menyadari bahwa hampir semua tetek-bengek di rumah, dikerjakan orang lain. Kalau pembantu cuti, ketahuan aslinya penghuni rumah!

    Anak saya yang besar, laki-laki, 12 tahun, SMP 2, sampai sekarang belum bisa mencuci pakaian sendiri. Membersihkan kamar pun mesti tiap kali disuruh, termasuk membereskan hal-hal kecil, menaruh handuk atau membawa piring kotor ke dapur. Dia sedang belajar menggosok pakaian. Dia juga bisa masak makanan untuk dia sendiri. Tapi saya rasa bukan itu yang disebut daya juang.

    Dalam sebuah seminar orang tua yang saya dengar beberapa hari lalu, psikolog menemukan bahwa daya juang anak-anak sekarang rendah. Orang tua yang bekerja menghasilkan cukup uang untuk anak-anak membeli apa yang mereka mau. Sebagian orangtua Kristen mengajari anak berdoa untuk meminta sesuatu. Tidak salah, tapi tidak cukup hanya itu. Anak-anak yang punya daya juang rendah juga cenderung menjadi anak yang underachievement, anak yang berprestasi di bawah potensinya. Di zaman yang makin lama makin penuh kompetisi ini, bagaimana membangun anak yang siap bersaing dalam segala hal?

    Membesarkan Anak

    Sumber: Gema Sion Ministry

    "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu" [ Amsal 22:6 ].

    Yang dimaksud dengan orang muda dalam ayat ini adalah anak kecil. Pada umumnya istilah anak kecil yang dimaksud berumur sekitar 5 tahun. Alkitab mengajarkan supaya anak kecil dididik menurut jalan yang patut baginya. Apabila hal ini dilakukan, maka akan genaplah janji yang indah ini yaitu, pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu. Seorang anak yang dididik dengan benar, akan menjadi setia sampai masa tuanya. Anak ini tidak akan menyimpang kekiri atau kekanan, ia tidak akan murtad, ia tidak akan meninggalkan Tuhan, ia akan setia sampai akhirnya. Betapa indahnya janji firman Tuhan ini, terutama bagi para orang tua. Ada suatu kepastian bahwa anak-anaknya tidak akan menyimpang dari jalan Tuhan.

    Tetapi sering kita lihat dari pengalaman, bagaimana seorang anak yang rajin pergi ke sekolah minggu, ketika menjadi remaja hilang entah kemana. Atau seorang pemuda/i yang aktif dalam pelayanan kekristenan, ketika menikah tenggelam dalam rutinitas rumah tangga tanpa tujuan, misi dan visi yang jelas. Mengapa demikian ? Alkitab menjelaskan penyebabnya, yaitu karena ia tidak dididik menurut jalan yang patut baginya. Ia tidak setia di jalan yang seharusnya ia lalui, karena memang ia tidak dilatih untuk menempuh jalan itu.

    Setiap anak mempunyai suatu jalan yang seharusnya ia lalui, jika ia ingin berhasil sebagai pelayan Tuhan, sebagai suami/isteri, dan sebagai profesional Kristen. Tetapi anak kecil tidaklah mengetahui jalan itu, juga ia belum dipersiapkan untuk melaluinya dengan tekun. Siapa yang bertanggung jawab untuk memberitahukannya, dan melatihnya agar ia dapat melaluinya dengan setia? Tentu saja Orang tualah yang bertanggung jawab dalam hal ini, karena kepada orang tuanya anak-anak ini dititipkan Tuhan. Ayat diatas dapat ditulis sedemikian, " Hai orang tua, didiklah anak-anakmu;"

    Dalam pengalaman kita, sering dijumpai anak-anak dari "pelayan Tuhan" yang nakal dan susah diatur. Anak-anak ini bahkan terluka pada orang tuanya karena merasa kurang diperhatikan. Mereka merasa orang tuanya lebih memperhatikan "pelayanan" dari pada diri mereka.

    Memang membesarkan anak, tidak langsung terlihat hasilnya. Banyak orang tua Kristen lebih senang mengerjakan sesuatu yang langsung dapat dilihat hasilnya, entah itu karier atau apa yang disebut pelayanan. Saatnya, orang tua Kristen perlu belajar memahami cara kerja Allah dalam penyelamatan dunia ini. Allah mulai dari satu orang bapa yaitu Abraham, dan penyelamatan ini baru akan dirampungkan oleh keturunannya berabad-abad bahkan berzaman-zaman kemudian. Bagaimana seandainya anak Abraham, nakal-nakal dan susah diatur? Bagaimana jika seandainya Ishak dan Yakub tidak setia di jalan yang harus ditempuhnya? Semoga perintah dalam Amsal 22:6 ini ditaati oleh para orang tua Kristen, dan semoga genaplah janji Tuhan dengan bangkitnya anak-anak yang setia menempuh jalan yang harus dilaluinya.

    Meng(h)ajar Anak-Anak

    Oleh: Didid Adi Dananto

    Anak sebagai berkah Allah
    Masyarakat Jawa mempunyai banyak pepatah menarik berhubugan dengan sosok yang disebut anak. Di antaranya adalah "sak galak-galake macan ora bakal mangan anakke dhewe". Bila diterjemahkan secara bebas maka itu kira-kira akan berarti betapa pun galak seekor macan ia tidak akan pernah memangsa anaknya sendiri".

    Sebagai pepatah tentu saja itu tidak menunjuk pada perilaku binatang yang bernama macan. Perumpamaan itu lebih menggambarkan satu ajaran moral tentang bagaimana orang tua selayaknya memperlakukan anaknya: tidak mencelakakan anaknya. Perumpamaan tersebut juga menyiratkan sebuah keyakinan bahwa sungguh mustahil bagi orang tua yang notabene adalah manusia melakukan hal yang bakal mencelakakan anaknya. Macan yang binatang pun tidak apalagi manusia, demikian kira-kira makna lanjutan dari perumpamaan orang jawa bijak.

    Meskipun demikian, dalam keseharian kita sering menemukan kasus bagaimana seorang Ari Hanggara mati ditangan bapaknya, seorang ibu menjual kegadisan anak perempuannya, bayi-bayi mati terbungkus tas kresek di tempat-tempat sampah. Terhadap orang tua semacam itu serta merta orang Jawa akan mengatakan "kuwi dudu uwong", yang arti bebasnya adalah itu bukan perbuatan manusia. Hewan pun juga bukan. Orang itu sedang "kangslupan", kerasukan setan. Setanlah sebenarnya yang sedang bekerja dengan meminjam wadag orang tersebut. Di sini tampak bahwa manusia sungguh mendapat tempat yang teramat luhur, sehingga meskipun seseorang telah berperilaku yang secara berlebihan dianggap mengganggu rasa manusia, dia dianggap sedang tidak sabar dan sedang dalam kuasa setan.

    Makna lain yang bisa kita hadirkan dari perumpamaan Jawa tersebut adalah betapa anak mendapat posisi khas dalam masyarakat Jawa. Anak adalah sosok yang harus di-ayem-i dan di-ayom-i. Kekhasan posisi anak akan lebih tampak dalam pengkategoriannya sebagai yang "durung uwong", belum orang. Pengkategorian tersebut membawa implikasi terhadap bagaimana seorang anak diperlakukan. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar ucapan yang ditujukan kepada anak "awas ojo metu bengi-bengi mengko ndak dipangan bethorokolo", atau "cah cilik kok ngrokok". Tampak di sini bahwa malam hari, merokok adalah wilayah milik para orang tua. Dan orang tua berkewajiban menjaga, ngemong, agar wilayah tersebut tidak dimasuki anak-anak sebab itu "ora ilok". Anak dianggap mempunyai dunianya sendiri yaitu dunia sebagai yang "durung uwong".

    Bagi masyarakat Jawa ungkapan-ungkapan tersebut begitu akrab bahkan punya kekuatan sehingga orang harus berpikir dua kali untuk melanggarnya. Hal ini bisa kita maklumi sebab anak adalah titipane Gusti Allah, berkahing Allah. Artinya, anak hakikatnya adalah milik Gusti Allah. Orang tua hanya dititipi saja. Meski pun anak "hanyalah" titipan tapi itu adalah berkah sebab Tuhan telah berkenan mempercayai orang tua untuk dititipi. Maka semakin banyak anak dititipkan semakin banyak pula berkah Allah dihadirkan. Sebagai titipan dari Tuhan, orang yang dititipi (baca : orang tua ) tentu saja akan kuwalat kalau sampai mentelantarkan titipan tersebut. Sebaliknya orang tua wajib ngemong agar anak tidak terpolusi oleh hal-hal yang memungkinkannya berperilaku "dudu uwong" agar kelak anak mampu dadi uwong".

    Anak sebagai bocoran kondom
    Sejalan dengan kemajuan pembangunan Indonesia di segala bidang, keyakinan yang sudah begitu manjing tersebut tiba-tiba harus gonjang-ganjing berhadapan dengan keyakinan baru yang hadir mendompleng kemajuan pembangunan. Berkahing Allah yang berupa anak yang dititipkan ke orang tua tiba-tiba harus tunduk pada kemauan manusia. Berkah Allah akan hadir begitu kita tidak menggunakan alat-alat kontrasepsi. Semua itu dilakukan dalam rangka mengamini satu nilai baru yaitu nilai "keluarga sejahtera bercatur warga, dua anak cukup laki perempuan sama saja". Tidak mengherankan bila di jamman baru ini kita menjadi begitu familiar dengan istilah "kecelakaan" atas hadirnya anak (baca: berkah Allah) yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Juga tidak mengherankan bila tiba-tiba kita merasa malu atas kehadiran berkah Allah yang ketiga, sebab hal itu akan menggiring kita dalam kategori mbalelo yang sangat mungkin akan berimplikasi "yuridis". Pada era baru ini tampak bahwa alasan beranak pinak telah mengalami pergeseran. Alasan atau pertimbangan ekonomis telah menggeser peran Tuhan dalam urusan beranak-pinak. Atas pertimbangan ekonomis pula maka "dua anak cukup, laki perempuan sama saja" telah di-amin-i sebagai keluhuran baru. Ngemong titipane Gusti Allah telah mendapatkan bentuk barunya. Anak sekarang adalah aset ekonomis yang harus diemong agar secara ekonomis pula menguntungkan. Segala macam hal yang memungkinkan terancamnya aset ekonomisnya harus sesegera mungkin dijauhkan. Kalau perlu orang tua membuat pagar-pagar agar anak tidak keluar dari pakem kesuksesan manusia modern. Maka menjamurlah kursus-kursus, mainanan jadi yang individual, klub-klub anak-anak yang dipercayai mampu menjawab kebutuhan orang tua untuk memaksimalkan investasi ekonomis mereka. Makna dadi uwong adalah menjadi orang yang secara ekonomis sukses.

    Anak-anak kemudian di(h)ajar dengan segala cara untuk patuh mengikuti langgam berpikir manusia dewasa modern. Segala usaha untuk sedikit kreatif melenceng dari langgam tersebut niscaya akan mengundang cap sebagai anak nakal, bandel, mbalelo sehingga harus dijewer atau bahkan digebuk. Contoh konkrit manusia-manusia gagal segera menjadi alat ampuh untuk menakuti anak-anak. Ungkapan yang mengancam dan menakuti seperti Kamu tidak mau belajar, apa mau jadi tukang becak ?!""sering kita dengan keluar dari mulut orang dewasa ditujukan kepada anaknya yang di"nakalkan. Golongan tukang becak, pemulung, dan sektor informal yang lain menjadi sosok tabu-manukutkan. Apalagi sering dihadirkan di media massa betapa mereka sering diburu petugas unruk ditertibkan dan kemudian dibina. Segala upaya untuk menjaga "investasi ekonomi" manusia dewasa tanpa sadar telah menciptakan satu masyarakat prefabricated yang patuh dan seragam.

    Kesimpulan
    Hal pertama yang bisa kita sepakati bersama dalam melihat persoalan anak adalah bahwa anak berada pada pihak lemah baik secara fisik mau pun psikologis. Karenanya, kemudian, adalah kewajiban manusia dewasa membantu untuk lebih berkembangnya potensi kemanusiaan mereka. Kedua hal tersebut diakui bersama baik ketika anak-anak masih dianggap sebagai sosok yang sakral maupun ketika anak hanya semata sebagai aset ekonomi keluarga.

    Persoalan muncul ketika manusia dewasa memastikan diri sebagai yang paling tahu atas segala kebutuhan bahkan masa depan anak. Berbagai upaya kemudian dihadirkan agar anak kelak mampu hadir sebagai sosok seperti yang sudah diplotkan oleh manusia dewasa. Anak kemudian kehilangan ruang ekspresi karena segala aktivitas harus sesuai dengan petunjuk bapak-bapak yang notabene selalu menjadikan pertimbangan ekonomi sebagai satu-satunya cara pandang. Anak telah digiring tanpa sadar masuk ke dalam satu dunia yang melulu material hingga kehilangan sentuhan-sentuhan non-material yang sebenarnya memang menempel dalam keseharian hidup kita.

    Segala bentuk pendampingan, pendidikan atau apa saja yang berhubungan dengan anak haruslah mempertimbangkan hal tersebut.

    Mengajarkan Matematika pada Anak Balita dengan Dot Cards

    (Metode Glenn Doman)

    Penulis : Drajat, (Penulis buku Bersahabat dengan Matematika)

    Bahan yang digunakan : Pertama, Seratus potong kertas manila putih berukuran 28 x 28 cm, masing-masing pada salah satu mukanya ada DOTS atau bola merah dengan garis tengah 2 cm.

    Bola-bola ini berjumlah dari SATU hingga SERATUS pada kartu terakhir. Dibalik kartu terdapat angka yang menyatakan jumlah bola yang ada.

    Dots/bola digambarkan secara acak di atas kertas tsb.

    Kedua, Seratus potong kartu yang lebih ringan 14 x 14 cm bertuliskan sebuah angka merah setinggi 12,5 cm mulai dari angka 1 hingga 100 pada kartu terakhir.

    Warna merah dipakai karena memang menarik bagi seorang anak.

    Cara mengajarkan :

    Ambillah kartu yang ada SATU bola merahnya saja, Sekarang angkatlah kartu tersebut di luar jangkauan tangannya dan katakan kepadanya, "INI SATU". (Jangan sampai si anak melihat benda-benda lain. )
    2
    Tunjukkan kepadanya sesingkat mungkin. Dua atau tiga detik.

    Kemudian letakkan kartu tersebut terbalik di pangkuan kita. Pada mulanya anda akan merasa janggal. Namun demikian, semakin kita mahir menggunakan kartu-kartu itu, semakin cepat anak kita dapat memahaminya.

    Perlu diingat bahwa angka hanyalah simbol yang mewakili nilai dari bilangan.

    Sekarang angkatlah kartu kedua, dan katakan, "INI DUA".

    Lakukan seterusnya hingga kartu berjumlah SEPULUH BOLA.

    Seluruh proses ini kurang lebih memakan waktu kurang dari satu menit.

    Lakukanlah setiap hari. Dalam waktu lima hari ia telah mengetahui fakta-fakta nyata dari angka satu sampai sepuluh, tetapi jangan meyuruhnya untuk membuktikan hal itu lebih dahulu.

    Pada hari keenam, kita singkirkan kartu 1 dari kesepuluh kartu di pangkuan dan menambahkan kartu 11.

    Pada hari ketujuh, kita singkirkan kartu 2 dan menambahkan kartu 12.

    Terus lakukan seperti itu hingga angka 100. Kegiatan ini kurang lebih akan memakan waktu tiga bulan.

    Yakinlah, kegiatan ini akan menghasilkan kemampuan anak yang luarbiasa. Kini ia akan dengan cepat dapat membedakan empat puluh lima bola dan empat puluh enam.

    Langkah berikutnya PENJUMLAHAN.

    Pada hari ke-30, anda telah memperlihatkan hingga 35 bola. Semakin banyak yang diperlihatkan bola-bola kepada anak berarti anda mulai mengajarkan penjumlahan.

    Mulai kita melangkah mengajarkan penjumlahan dengan meletakkan bola-bola merah berjumlah dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, hingga sepuluh di pangkuan anda.

    Semuanya menghadap ke bawah dan kartu berbola dua diletakkan paling atas di tumpukan itu.

    Dengan semangat katakanlah, "satu tambah satu sama dengan dua". Kemudian kita perlihatkan kartu berbola dua.

    Perlihatkan tidak lebih dari satu detik. Jangan menjelaskan arti kata-kata "tambah" atau "samadengan". Katakanlah "Satu tambah dua samadengan ." Jangan katakan "satu tambah dua menjadi...."

    Jika kita mengajarkan fakta-fakta kepada anak-anak, mereka akan menarik kesimpulan tentang hukum-huikumnya lebih tepat dan cepat. Kemudian katakan "Satu tambah dua sama dengan tiga" hingga "satu tambah sembilan sama dengan sepuluh" yang kemudian kita perlihatkan hasilnya.

    Lakukanlah tiga kali pada hari pertama, sambil kita meneruskan untuk memperlihatkan kartu-kartu berbola sebanyak tiga kali sehari. Sebaiknya anda mengatur keenam waktu secara merata saat daya tangkap anak sedang memuncak.

    Pada hari ke-31 anda mengajarkan dua tambah dua, tambah tiga, dan seterusnya hingga tambah delapan. Apa yang kita ajarkan adalah arti dari bunyi kata "tambah" dan "samadengan". Percaya atau tidak, pada saat kita bertanya "dua tambah empat samadengan enam" kepada seorang dewasa maka akan terlintas 2 + 4 = 6. Tetapi pada seorang anak akan terlintas dua bola tambah empat bola samadengan enam bola.

    Sampai hari ke-31 ia sudah mengenal jumlah yang sbeenarnya sampai dengan 40 dan telah dapat menambah dalam setiap kombinasi yang ada sampai dengan 10. Tahap ini yang terpenting adalah, bahwa ia telah mengerti "tambah" dan "samadengan" walaupun kita tidak membertiahunya.

    Mulai hari ke-36 dst kita tidak perlu mengajarkan dengan urutan tertentu lagi. Ia sudah memahami. Berikanlah ia sekarang soal penjumlahan maka dengan cepat ia akan bisa menjawab.

    Langkah berikutnya PENGURANGAN.

    Pola ini sama dengan pola penjumlahan. Katakan "sepuluh kurang satu samadengan sembilan" Dan perlihatkan sejenak kartu berbola sembilan. Kemudian katakan "sepuluh kurang sembilan samadengan satu".

    Pada hari ke-41 anda dapat mengajarkan mulai dari duapuluh kurang satu sampai dengan duapuluh kurang sembilan belas. Maka ia sekarang sedang menerima sembilan waktu belajar yang sangat ringkas setiap harinya dengan urut-urutan sebagai berikut: Kartu-kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan, kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan, kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan.

    Di hari ke-42 mulailah dengan tigapuluh kurang satu hingga tigapuluh kurang duapuluh sembilan. Pada hari ke-43 mulailah dengan soal-soal pengurangan dalam bentuk dan urutan yang tidak teratur sampai jumlah empatpuluh delapan.

    Langkah berikutnya MEMECAHKAN SOAL.

    Apabila apa yng kita sampikan sungguh-sungguh dan penuh kasih sayang, Insya Allah akan menghasilkan buah yang "harum" baunya dan nikmat rasanya.

    Kini kita siap mengajarkan memecahkan soal, ingat bukan mengujinya. Mulailah dengan bilangan-bilangan.

    Berlututlah di lantai menghadap anak. Ambillah kartu dengan 18 bola dan 25 bola. Kemudian mintalah si anak untuk menunjuk pada 25. Permintaan ini diajukan sambil lalu dan riang. Jangan suruh dia mengucapkan duapuluh lima, sebab kita tidak sedang mengajar berbicara, tetapi sedang mengajarkan matematika. Jika ia tidak cukup cepat, katakan dengan gembira, "Yang ini, bukan?" sambil mengangkat kartu 25 bola. Inilah cara mengajar yang jujur.

    Ulangi lagi hingga anak dapat menunjukkan dengan benar. Jika ia dapat mengetahuinya, pujilah dan peluklah. Bahwa ia adalah seorang anak yang terpandai yang pernah kita kenal. Hal ini memang betul bukan ?

    Begitu kita meluapkan kegembiraan dia akan secepatnya menaruh minat pada matematika untuk selamanya. Ia menjadi yakin bahwa matematika lebih menyenangkan daripada "gula-gula". Terus lakukan seperti itu, maka anak kita akan lebih cepat menunjukkannya. Lakukan setelah itu pengurangan.

    Sebagai catatan jangan memberikan waktu khusus untuk memecahkan soal-soal, tetapi campuradukkan atau sewaktu-waktu saja. Hingga anak kita merasakan kesenangan. Toh tidak ada tekanan yang kita berikan kepada anak kita.

    Langkah berikutnya PERKALIAN

    Katakan kepadanya kita mengajarkan perkalian. Lakukan hal yang sama seperti sebelumnya.

    Mulailah dengan mengatakan "dua kali dua samadengan empat" sambil memperlihatkan kartu berbola empat. Teruskan sampai "dua kali lima samadengan sepuluh".
    2
    Pada hari ke-51, mulai dengan "tiga kali tiga samadengan sembilan". Akhirnya "tiga kali delapanbelas samadengan limapuluh empat".

    Sampai hari ke 58 kita sampai pada "sepuluh kali enam samadengan enampuluh". Pada waktu mengajarkan perkalian kita bisa menyelipkan satu persoalan perkalian.

    Langkah berikutnya PEMBAGIAN

    Pada hari ke-60 kita mengajarkan pembagian. Sampai langkah ini ia telah mengetahui nilai sebenarnya hingga enampuluh lima. Mulailah dengan mengatakan "empat dibagi dua samadengan dua" hingga enampuluh empat dibagi dua samadengan tigapuluhdua".

    Pada hari ke-68 kita sampai pada "tujuhpuluh dibagi sepuluh samadengan tujuh".

    Sewaktu-waktu kita selingi dengan soal pembagian.

    Langkah berikutnya PERSAMAAN

    Pada hari ke-70 kita sudah menjadi seorang ahli matematika. Katakanlah kita sedang mengajarkan persamaan dengan riang gembira.

    Sebetulnya ia sudah mengetahui semua persamaan dua langkah. Sebab, memang dua tambah tiga samadengan lima, tujuhpuluh dikurangi tigapuluhsatu samadengan tigapuluh sembilan, delapan kali delapan samadengan enampuluh empat. Sekarang berikanlah soal persamaan tiga langkah. Katakanlah "tujuh tambah tigabelas kali tiga samadengan ." Kemudian perlihatkanlah kartu berbola enampuluh.

    Setelah kita mengajarkan tiga langkah persamaan maka lanjutkanlah dengan langkah-langkah yang lain.

    Yakinlah apa yang kita ajarkan akan menghasilkan hasil yang memuaskan.

    Langkah selanjutnya ANGKA-ANGKA.

    Langkah ini amat mudah. Sekarang kita mengambil kartu-kartu yang bertuliskan angka (kartu dg ukuran 14 x 14 cm). Angkatlah kartu yang bertuliskan 1 berwarna merah, dan katakan "ini satu".

    Lakukan seterusnya hingga hari ke-99 ia akan mengetahui semuanya.

    Selamat Mencoba !

    Mengasuh Anak Adalah Pelayanan Terpenting

    Penulis: Mundhi Sabda Hardiningtyas

    Sejak memutuskan pindah kerja ke daerah Grogol yang super macet, saya hampir
    kehilangan kebersamaan dengan anak-anak. Jarak tempat kerja yang semakin
    jauh, membuat saya harus meninggalkan anak-anak di rumah selama 14 jam
    sehari. Enam jam sehari saya harus membuang waktu untuk perjalanan pergi dan
    pulang dari kantor. Sesampainya di rumah, kelelahan fisik tidak memungkinkan
    saya memberikan kasih dan kehangatan yang memadai untuk anak-anak.

    Waktu yangtersisa sekitar 2 jam bersama anak-anak pun tidak sepenuhnya bisa kami isi dengan 120 menit kebersamaan. Seringkali fisik saya ada begitu dekat dengan
    anak-anak, namun pikiran saya masih ada di kantor, di depan komputer atau di
    buku yang baru saya beli. Tak jarang saya memangku anak-anak tetapi ujung
    jari saya ada di keypad HP dan hati saya entah ada di mana.

    Jujur saja, ada perasaan bersalah yang terus bersarang di hati karena
    ketidakmampuan saya memberikan perhatian dan kasih sayang kepada si bungsu
    Mika, sebagaimana saya dulu memperlakukan si sulung Dika. Perasaan bersalah
    itu semakin besar seiring dengan semakin gencarnya protes Dika untuk
    menyuarakan kepentingan Mika yang selama ini nyaris saya abaikan.

    Sebelum Mika masuk TK, saya bisa menebus sedikit kesalahan dengan sesering
    mungkin mengajak Mika pergi. Tak jarang saya membawa Mika ke kantor.
    Walaupun Mika harus meninggalkan rumah selama 14 jam, namun ia sangat
    menikmati kebersamaan dengan saya. Walaupun harus naik turun kendaraan umum,
    namun Mika cukup antusias selama dalam perjalanan.

    Sayang sekali, sejak Mika masuk TK, saya tidak bisa lagi mengajaknya ke
    kantor. Hari pertama Mika masuk sekolah, saya sengaja off dari kantor supaya
    bisa mengantar dan menunggui Mika. Karena saya lihat Mika cukup mandiri,
    hari kedua dan seterusnya saya minta pengasuh untuk menggantikan tugas
    mengantar dan menjemput Mika. Karena Mika tidak pernah protes, saya tidak
    mengambil alih tugas pengasuh walaupun saya sedang off. Dengan semangat
    melayani Tuhan, saya sering memanfaatkan waktu off untuk melayani di gereja
    atau menyediakan waktu dan telinga untuk anak-anak Tuhan yang berbeban
    berat. Pelayanan itulah kata yang sangat saya banggakan untuk melegitimasi
    kesibukan saya.

    Pengasuh Mika yang melihat betapa lelahnya saya sepulang dari kantor, selalu
    berusaha mendorong Mika untuk menyeselaikan PR dari sekolah sebelum saya
    tiba di rumah. Pendek kata, saya hanya terima jadi dan saya cukup puas
    karena Mika tidak mengalami masalah dalam belajar. Mika yang tumbuh sebagai
    anak yang manis, sopan, mudah diarahkan pun saya pandang sebagai proses
    alami dari seorang anak yang tahu diri dan menerima keadaan sebagai anak
    seorang janda.

    Hari Sabtu minggu lalu, saya sengaja off dari kantor karena ada urusan di
    sekolah Dika. Rencana saya hanya satu, yaitu ke sekolah Dika. Tidak seperti
    biasanya, Sabtu itu saya bangun 1 jam lebih lambat dari biasanya. Melihat
    saya agak santai, Mika memberondong dengan beberapa pertanyaan Hari ini Ibu
    libur? Mau nggak Ibu nungguin Mika, sekali ini aja? Belum sempat saya
    menjawab, Mika terus bertanya Ibu sayang Mika, nggak? Ibu kepingin lihat
    Mika disayang bu guru, nggak? Ibu mau nggak ngeliatin Mika dari luar pagar
    sekolah terus-terusan sampai Mika selesai sekolah? Ibu seneng nggak kalau
    Mika pinter?

    Pertanyaan-pertanyaan Mika yang terus mengalir serasa menohok ulu hati saya.
    Belum juga saya mampu mengendalikan perasaan bersalah, Dika berdiri di
    belakang Mika untuk memberikan dukungan layaknya demonstran yang sedang
    menuntut hak-haknya! Selama ini Ibu belum pernah menunggui adik
    sekolah, padahal dulu setiap Sabtu Ibu nungguin Dika sekolah, dari TK kecil
    sampai kelas 2! Kasihan Bu, adik kan juga manusia! kata Dika semakin
    menyudutkan saya.

    Tidak ada jawaban lain yang lebih bijaksana selain mengiyakan permintaan 2
    demonstran kecil itu. Jadilah pagi itu saya mengantar dan menunggui Mika
    sekolah terlebih dulu sebelum pergi ke sekolah Dika.

    Sejak masuk ke mobil jemputan Mika sangat riang. Saat mobil berhenti di
    depan rumah teman sejemputannya, Mika berteriak Giovani. Mika seneng dech,
    hari ini ibunya Mika mau nungguin Mika di sekolah! Mama Giovani, mau lihat
    ibunya Mika nggak? Ibunya Mika baik loh!

    Ketika mobil menjemput teman yang lain, Mika berteriak kembali
    Arnold hari ini Mika asyik dech! Ibu Mika kan sayang sama Mika! Mama
    Arnold, hari ini Mika disayang sama Ibu!. Seolah tak ada bosannya, Mika
    memamerkan kebahagiaannya kepada setiap temannya. Bahkan sesampainya di
    sekolah, Mika bilang kepada guru-guru kalau hari itu saya mengantarnya.

    Sepintas, keceriaan Mika menampakkan bahwa ia adalah anak periang dengan
    tangki cinta yang penuh. Namun, ekspresi Mika yang berlebihan hari itu
    sesungguhnya mengisyaratkan bahwa ada keinginan Mika yang sudah lama
    terpendam, yaitu ingin seperti anak-anak lainnya yang diantar dan ditunggui
    ibunya. Sayangnya, selama ini saya kurang memperhatikan keinginan Mika,
    sementara ia terlatih untuk tahu diri dan menahan keinginan tersebut.
    Walaupun ekspresi Mika membuat saya malu, tetapi tatapan Mika yang polos dan
    terkesan innocent meyakinkan saya bahwa ia tidak sedang mempermalukan
    saya. Sebaliknya, Mika menyadarkan saya untuk introspeksi diri. Seolah
    sedang bercermin, saya tidak boleh memecah cermin yang menyodorkan bayangan
    wajah yang buruk. Saya harus menyadari dan mengakui bahwa selama ini saya
    belum bisa menjadi ibu yang baik.

    Melihat keceriaan Mika yang melebihi hari-hari sebelumnya, seorang ibu
    berkomentar: Hari ini Mika kelihatan sumringah karena ditunggui ibunya!
    Ibu-ibu disini suka menyanjung Mika karena dia baik, ramah dan suka
    menolong temannya. Tapi kayaknya dia lebih senang kalau ibunya sendiri tahu
    kalau Mika itu anak hebat kata orang tua murid yang lain.
    Sementara orang tua yang lain berkata: Biasanya Mika kelihatan dewasa! Tapi,
    yang namanya anak-anak, tetap saja sesekali masih kepingin dimanja ibunya.

    Mendengar komentar dari para orang tua murid, saya semakin sadar bahwa Mika
    tetaplah anak-anak. Walaupun ia berusaha menjadi anak yang tahu diri dan
    mengerti kesulitan ibunya sebagai orang tua tunggal, tetapi Mika tetap
    membutuhkan sentuhan dan kasih sayang selayaknya anak-anak lain yang
    memiliki orang tua lengkap. Merasa telah melakukan pengabaian, sepulang dari
    sekolah Mika, saya bertekat untuk tidak melakukan pekerjaan lain, kecuali
    menemani Mika makan, belajar dan bermain. Sorenya, saya sengaja memangku
    Mika sambil mengelus rambut halusnya yang sengaja saya potong cepak ala
    tentara. "Bu, kita bincang-bincang yuk!" ajak Mika sore itu. Mika memang
    sering mengucapkan kata-kata yang sok tua itu untuk memancing supaya saya
    tertawa.

    Cukup lama saya dan Mika mendiskusikan acara TV, ngobrol tentang teman-teman
    TK Mika dan bicara dari hati ke hati, terutama tentang perasaan Mika selama
    ini. Melihat saya tidak melakukan pekerjaan yang lain, Dika bertanya: Hari
    ini ibu kok cuma peluk-peluk adik terus? Memangnya Ibu tidak mengisi acara
    pembinaan pemuda di gereja? Tumben nich, nggak pelayanan?!
    Dengan santai saya menjawab: Menyediakan waktu untuk memeluk dan mencium
    anak sendiri, itu juga termasuk pelayanan!
    Apa hubungannya? Dika mempertanyakan.
    Pelukan dan ciuman yang hangat dan penuh kasih merupakan bahasa kasih. Ibu
    harus melakukan ini supaya adik bisa merasakan kasih dan bisa mengasihi
    orang lain. Kalau ibu tidak pernah memeluk atau mencium adik Mika, maka ia
    tidak bisa merasakan kasih. Kalau adik tidak pernah merasakan kasih,
    bagaimana ia mengenal kasih? Kalau adik tidak pernah merasakan dan mengenal
    kasih dengan baik, mana mungkin dia bisa mengasihi orang lain?! saya
    berusaha mengartikulasikan kesadaran yang baru muncul itu.

    Minggu paginya, seperti biasa Mika bangun dari tidur langsung minta bantuan
    pengasuhnya untuk menyiapkan sarapan dan air hangat untuk mandi. Seperti
    biasanya juga, Mika bertanya Hari ini Ibu pergi ke gerejanya orang lain,
    atau ke gerejanya Mika?
    Ke gerejanya Mika! jawab saya singkat.
    Asyik! Berarti Ibu anterin Mika sekolah Minggu ya? tanya Mika seakan
    menagih janji saya untuk mengantar ke sekolah Minggu bila sedang tidak ada
    pelayanan di gereja lain.

    Walaupun pagi itu Mika hanya minta diantar sampai di halaman gereja, tetapi
    saya tetap mengikuti Mika dari belakang. Hari itu saya memang berniat untuk
    mengobservasi Mika dari balik kaca. Seorang teman yang melihat saya duduk di
    depan kelas Mika tiba-tiba berseloroh: Kok Cuma duduk-duduk di sini,
    memangnya nggak ada pelayanan?
    Sembari bercanda, sayapun menjawab: Lo, duduk-duduk di sini sambil mengamati
    tingkah polah anak di sekolah Minggu, itu juga termasuk pelayanan! Buat apa
    saya sibuk pelayanan di sana-sini, kalau kelakukan anak sendiri saja saya
    nggak tahu?!

    Seperti biasa, hari Senin kantor off sehingga saya bisa bangun agak siang.
    Namun tidak seperti biasanya karena pagi itu Mika minta saya kembali
    mengantar dan menungguinya di sekolah. Jujur saja, sebenarnya menunggui anak
    sekolah adalah kegiatan paling menyebalkan bagi saya. Tanpa bermaksud
    merendahkan ibu-ibu orang tua murid di sekolah Mika, namun kebiasaan mereka
    yang kongkow-kongkow sembari ngerumpi, membuat saya serba salah dan tidak
    betah berlama-lama di sana. Kalau saya tidak ikut ngobrol terkesan angkuh,
    tapi kalau mau ikut ngobrol kelihatan pura-pura atau hanya basa-basi.
    Terlebih lagi topik yang mereka bahas seperti arisan panci, kredit pakaian
    atau perhiasan, gossip artis, atau ngegosipin suami sendiri ataupun suami
    tetangga, sangat tidak nyambung dengan otak saya.

    Untuk mengisi waktu yang kosong, saya pun mendatangi ruang kepala TK.
    Kebetulan saya cukup akrab dengannya sejak tahun 1996 waktu Dika masih TK
    kecil. Saya cukup terbelalak mendengar kesan kepala TK tentang sikap Mika.
    Menurutnya, Mika cukup matang dan mandiri untuk ukuran anak-anak
    seumuranya. Selain itu, saya mendapat kabar kalau Mika termasuk anak yang
    ceria dan berusaha menyenangkan orang lain.

    Saya lebih terbelalak lagi ketika guru wali kelas Mika memberitahukan bahwa
    sejak awal masuk sekolah, Mika selalu menyelesaikan tugas dengan baik, cepat
    dan antusias. Tanpa diminta, Mika sering membantu ibu guru menolong
    teman-temannya yang belum bisa menulis angka dan huruf. Bila ada temannya
    yang menangis Mika berusaha membujuk dan menghibur. Begitu juga ketika ada
    temannya yang berkelahi, Mika berusaha melerai dan melaporkannya kepada
    guru. Namun sayangnya, sikapnya yang kalem dan tidak suka membalas teman
    yang usil padanya, membuat Mika sering menjadi bulan-bulanan. Walau pipinya
    yang mirip bakpau sering memerah kena cubitan teman, Mika tidak mau
    membalasnya.

    Sejenak saya bangga memiliki Mika yang begitu baik dan menyenangkan
    orang-orang di sekitarnya. Namun di lubuk hati saya yang terdalam tersimpan
    rasa malu, karena saya bukanlah orang pertama yang tahu perkembangan Mika
    yang cukup pesat. Semakin banyak kebaikan yang ditunjukkan Mika, rasa malu
    saya pun semakin besar karena sejujurnya, kemajuan yang dicapai Mika
    bukanlah hasil kerja saya. Itu semua adalah anugerah Tuhan lewat Dika,
    pengasuh, guru TK dan guru les Mika.

    Sesampainya di rumah, saya bertanya kepada Mika: Kata teman-teman, Mika suka
    dicubit Jesi? Terus Mika suka membalas, nggak?
    Enggak! Kan nggak boleh sama Mas Dika Mika menjelaskan sikapnya.
    Memangnya Mas Dika bilang apa? tanya saya penasaran.
    Kata Mas Dika, kalau ada teman yang usil, langsung ditinggal pergi saja!
    jawab Mika. Kalau adik Mika berasa sakit, bagaimana? tanya saya ingin tahu.
    Kata Mas Dika, Mika harus bilang ke teman yang usil: “Terima kasih kawan,
    kau menyakitiku! Aku mengampunimu, tapi kamu jangan ganggu aku lagi Mika
    mengulang kata-kata yang diajarkan oleh kakaknya.
    Kalau temannya masih mengganggu Mika bagaimana? tanya saya lagi.
    Mika bilang saja: Aku tidak mau melihatmu! kata Mika dengan nada keras.
    Loh kok kata-katanya jadi keras?! saya masih ingin tahu alasan Mika.
    Habis, kata-kata yang diajarin Mas Dika suka nggak mempan! Ya, udah Mika
    ngarang sendiri saja!

    Saat Dika kembali dari sekolah, saya sangat kaget melihat Mika yang
    cepat-cepat pergi ke dapur untuk membuat segelas sirup dingin untuk Dika.
    Lebih kaget lagi ketika saya melihat Mika juga membuat secangkir kopi susu
    untuk saya dan sebotol susu untuk dirinya sendiri. Perasaan bersalah dalam
    diri saya semakin besar karena selama ini saya tidak tahu kalau tangan kidal
    Mika ternyata cukup lincah membuat minuman untuk dirinya sendiri dan juga
    untuk orang lain. Saya menyesal karena ketidaktahuan ini membuat saya tidak
    memberikan apresiasi atas kemajuan yang dicapai Mika. Walau terlambat, saya
    berusaha mengekspresikan perasaan bangga terhadap Mika: Wauw Ibu senang Mika sudah bisa bikin minum sendiri. Ibu juga senang karena Mika mau membuat minum untuk ibu dan Mas Dika. Ibu bangga karena Mika sangat istimewa! kata saya sambil mencium pipi tembemnya.

    Saat Mika tidur siang, saya bertanya kepada Dika Memangnya apa yang
    diajarkan Mas Dika kepada adik Mika, kok dia nggak mau membalas temannya
    yang usil?
    Yaila ..masak ibu nggak tahu sih? Kata Ibu, LK3 suka mengajari orang
    memaafkan orang lain yang melukai?! Seharusnya Ibu yang ngajarin adik
    memaafkan teman, tapi karena Ibu sibuk pelayanan melulu, ya udah Dika saja
    yang ngajarin sebisanya!

    Saya cukup beruntung, saat saya lalai mengajarkan sesuatu kepada Mika, ada
    Dika yang mengisi. Untung saja saat-saat kosong itu belum dimasuki orang
    yang membawa pengaruh buruk. Saya sangat bersyukur Tuhan menjaga Mika dan
    Dia mengingatkan saya sebelum Mika masuk ke lingkungan yang lebih luas.
    Sejak saat itu saya komit untuk memberikan seluruh malam khusus untuk
    anak-anak. Kalaupun saya harus mencuri-curi waktu untuk menulis atau
    membuka email, saya hanya akan mengambil sisa-sisa waktu setelah anak-anak
    tidur.

    Melihat saya jarang membuka computer, Dika pun bertanya: Sudah beberapa hari
    ini Dika lihat Ibu tidak menyentuh computer? Memangnya nggak suka pelayanan
    lagi? Memperhatikan dan mengasuh anak dengan sepenuh hati itu justru merupakan
    pelayanan terpenting! jawab saya. Loh. dulu Ibu bilang kalau pelayanan yang terpenting itu untuk Tuhan! Kenapa sekarang Ibu bilang bahwa pelayanan yang terpenting itu memperhatikan dan mengasuh anak? Dika meminta penjelasan.
    Kalau Ibu mengasuh anak dengan baik, berarti Ibu sedang melakukan
    pekerjaan Tuhan untuk menyiapkan generasi Kristen yang tangguh. Ini
    pekerjaan yang sangat penting karena anak-anak adalah pewaris kerajaan
    surga. Kalau Ibu tidak bisa mengasuh anak sendiri dengan baik, mana mungkin
    ibu bisa mengajarkan orang lain untuk mengasuh anak dengan baik? Kalau satu,
    dua, tiga dan akhirnya semakin lama semakin banyak orang tua Kristen yang
    tidak mengasuh anak dengan baik, lama-lama menghasilkan gerenasi yang
    amburadul yang mempermalukan Tuhan Yesus! jawab saya diplomatis.
    Ha, ha, ha ..rupanya Ibu sudah bertobat ! teriak Dika dengan nada
    bercanda.

    Sambil menyembunyikan wajah yang memerah karena malu, saya mencoba mengingat
    kembali etos kerja professional yang diajarkan oleh Jansen Sinamo. Dengan
    iseng sayapun mencoba mengadopsi etos kerja professional itu dalam tugas
    mengasuh anak. Kalau pekerjaan kantor saja harus dilakukan secara
    professional, maka mengasuh anak untuk menyiapkan generasi Kristen yang
    tangguh, seharusnya dilakukan dengan lebih professional lagi kata saya
    dalam hati.

    Sejak saat itu saya bertekad untuk menjadi orang tua dengan etos
    professional. Sejenak pikiran saya melayang dan otak sayapun menuliskan
    tekad sebagai berikut:
    Anak adalah rahmat, aku harus mengasuhnya dengan tulus dan penuh syukur
    Anak adalah amanah, aku harus mengasuhnya dengan benar dan penuh
    tanggung jawab
    Menjadi orang tua adalah panggilan Tuhan, aku harus mengasuh anak dengan
    penuh integritas
    Menjadi orang tua adalah aktualisasi diri, aku harus mengasuh anak
    dengan penuh semangat
    Mengasuh anak adalah ibadah, aku harus melakukannya dengan serius dan
    penuh kecintaan.
    Mengasuh anak adalah seni, aku harus melakukannya dengan kreatif dan
    penuh suka cita
    Menjadi orang tua adalah kehormatan, aku harus mengasuh anak dengan
    tekun, penuh keunggulan
    Mengasuh anak adalah pelayanan terpenting, aku harus melakukannya dengan
    sempurna, penuh kerendahan hati, demi kemuliaan nama Tuhan.

    ..........................................................................................................................................
    * Penulis buku "Tangan Yang Menenun" yang mengisahkan perjuangan orang tua
    dalam mengajar anak-anak tentang kasih dan takut akan Tuhan (Kairos, April
    2005) dan buku "Melewati Lembah Air Mata" sebuah kesaksian hidup yang sulit
    dari seorang korban kekerasan yang akhirnya ditolong Tuhan melewati lembah
    kekelaman depresi dan berdiri tegak di atas puing-puing kehancuran (Gradien,
    Juni 2006).

    Mengenal Anak Prasekolah

    Oleh: Walsinur.Silalahi

    Pada usia 3 tahun anak mampu melakukan berbagai gerakan seperti berlari,melempar.Orangtua maupun guru perlu memberikan kesempatan bebagai kegiatan yang aman bagi mereka.Anak2 yang berusia 4-5 tahun meskipun sdh mampu duduk diam ump kalau mendengar cerita,mereka tetap masih membutuhkan latihan gerakan sehingga anak-anak ini tdk terlalu banyak duduk.

    Dalam merancang pendidikan untuk anak,sebaiknya para orangtua tdk perlu banyak menuntut diluar kemampuan anak.Anak-anak prasekolah belum mahir melakukan gerakan yang disertai dengan aturan2.Mereka akan mengalami kesulitan untuk explorasi bila dipaksa mengikuti aturan2. Setiap hari anak2 membutuhkan kegiatan jasmani yang disertai dengan kebugaran dan aktivitas yang tinggi.Saat ini justeru ada kecenderungan anak lebih banyak pasif dan duduk diam di bangku sambil meneonton TV.

    Beberapa tip yang berguna bagi para orangtua dan guru untuk perkembangan anak adalah sbb:

    Pastikan bahwa anak mempunyai kesempatan bermain dengan bola dan alat2 yang merangsang anak untuk bergerak,Bola disediakan dari berbagai ukuran dan berat.melaui bermain dengan bola anak belajar bagaimana melempar,menangkap dan menendang. Untuk anak yang masih muda berikan alat yang dapat diletakkan di luar seperti jungkat-jungkit,tangga,perosotan dan terowongan.Sedangkan bagi anak yang lebih besar perlu diberikan papan keseimbangan dan berbagai alat untuk dipanjat. Pada saat anak berusia 5 tahun ,perlu diberikan kesempatan bermain lompat tali untuk melatih gerakan dan menjaga keseimbangan tubuh. banyak sekali kegiatan gerakan motorik halus untuk belajar mengontrol otot,misalnya:menggambar,menggunting,menempel,menjahit dll.

    Seorang anak yang berada pada tahapan sensori motor membutuhkan berbagai pengalaman dengan menyentuh,memegang,,meraba,mencicipi,,dan melakukan explorasi.Cara anak melakukan explorasi seperti memukul-mukulkan mainan kelantai,mengoyang-goyangkan,menggelindingkan dan memasukkan mainan tsb kemulut.Tingkah laku explorasi adalah cara anak mengenal suatu benda atau mainan yang baru.

    Berikan kepada anak sejumlah keping-keping dengan beraneka bentuk,ukuran dan warna.Doronglah anak untuk mengelompokkan keping2 tasb berdasarkan warna,ukuran dan bentuk.

    Bahasa dan berpikir sangat berkaitan satu sama lain.Pemikir yang sedang dalam tahapan pra-operasional dapat didorong untuk melakukan diskusi berkaitan dengan pendapat masing2 anak.Dengan demikian cara berpikir egosentris sedikit demi sedikit dapat berkurang.

    Pentingnya Pembelajaran Ulang Bagi Orang Tua

    Penulis : Mundhi Sabda H. Lesminingtyas

    Dalam buku TANGAN YANG MENENUN, saya telah menceritakan dengan panjang lebar bagaimana anak sulung saya stress karena pola pengasuhan dan pendidikan yang saya terapkan. Berdasarkan test IQ, anak saya memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi (suprior). Waktu itupun saya berpikir bahwa dengan kecerdasan yang begitu tinggi, anak saya bisa diprogram menjadi apa saja seperti yang saya inginkan. Ibarat menghadapi komputer pentium 4 yang super canggih, saya pun mengisi otak anak saya dengan berbagai pengetahuan.

    Saya pun menyusun jadwal ketat untuk anak saya, dari menit ke menit, mulai hari Senin hingga Minggu. Saya mengikutsertakan anak saya dalam berbagai kursus,mulai dari bahasa Inggris, melukis, matematika, dan kursus-kursus lainnya. Waktu itu saya ingin anak saya menjadi manusia super. Pada tahap-tahap awal atau kira-kira sampai kelas 2 SD, pertumbuhan anak saya sangat memuaskan hati saya. Nilai sekolahnya sangat bagus dan dia selalu masuk 3 besar di kelasnya. Lalu, apakah ana saya puas dengan prestasi yang diraihnya? Tidak ! Ternyata anak saya merasa wajib mengejar nilai bukan untuk keuasan dirinya, tetapi hanya sekedar untuk menyenangkan hati saya. Bagaikan robot, anak saya sering bilang bahwa segala sesuatu yang ia lakukan bukan untuk kepentingannya,melainkan untuk kepentingan saya. Anak saya mengejar nilai sekolah dan patuh dengan jadwal kursus dengan motivasi supaya saya tidak marah kepadanya.

    Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya? Pada suatu waktu anak saya mengalami kejenuhan dan nilai sekolahnya menurun drastis. Saya pun kecewa dan mulai memacu belajar anak saya dengan lebih kuat lagi. Hasilnya justru semakin merosot dan kekecewaan saya pun semakin memuncak. Akhirnya, saya stress. Tidak jauh berbeda, anak sayapun mengalami stres.

    Seperti kebanyakan orang tua pada umumnya, saya pernah mengalami ketegangan-ketegangan terutama ketika keadaan anak tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Waktu itu saya yakin anak bermasalah karena tidak menggunakan potensi kecerdasannya secara optimal. Saya pun mondar-mandir membawa anak saya ke seorang psikolog. Saya berharap "komputer" (otak) anak saya bisa direparasi supaya bisa berfungsi sesuai dengan kapasitasnya.

    Dalam suatu kesempatan, Prof Dr. Singgih Dirga Gunarsa mengatakan bahwa sebagain besar anak-anak yang dibawa orang tuanya berkonsultasi kepada beliau, sesungguhnya tida bermasalah. Yang bermasalah dan memerlukan konseling justru orang tuanya. Hati saya pun bergejolak "Betulkah ada sesuatu yang salah dalam diri saya? Lalu, apa kesalahan saya?"

    Sulit bagi saya untuk menemukan kesalahan diri sendiri. Sebaliknya, dulu saya justru merasa bahwa saya adalah ibu yang paling baik untuk anak saya. Saya merasa sudah menerapkan ilmu keguruan yang saya dapat dari bangku kuliah. Saya juga merasa sudah menerapkan Firman Tuhan dalam mendidik anak saya. Sampai suatu saat, anak saya berterus terang kepada saya "Dika nggak suka sama ibu karena ibu terlalu cerewet dan suka memaksa. Ibu galak, persis kayak nenek"

    Saya serasa ditampar ketika mendengar keterusterangan anak saya. Namun saya berterima kasih karena hal itu bisa menjadi cermin bagi saya. Saya menyadari apa yang ditunjukkan anak saya adalah cerminan dari apa yang saya lakukan untuknya. Memang tidak bisa disangkali, sifat saya yang ambisius dan terlalu bangga dengan teori-teori yang saya telah kuasai, muncul ke permukaan, sehingga anak saya melihat saya sebagai ibu yang galak, cerewet dan suka memaksa.

    Dulu, saya tidak tahu mengapa saya telah berusaha menjadi ibu yang baik tetapi ternyata "tampilan" saya tak lebih dari seorang ibu yang dominan dan otoriter. Yang saya hanya tahu, memang begitulah keadaan alami saya. Sampai suatu malam ketika hendak tidur, saya terngiang-ngiang dengan kata-kata anak saya "Ibu kayak nenek".

    Saya mencoba membuka kenangan masa kecil, seolah sedang memutar ulang film kehidupan saya. Saya mulai melihat satu persatu interaksi saya dengan ibu saya. Dalam hati masih terlintas kebencian saya terhadap ibu saya yang otoriter dan selalu menuntut anak-anaknya untuk menjadi yang nomor satu. Saya tidak pernah bisa melupakan bagaimana ibu saya menjambak rambut saya ketika nilai sekolah saya tidak mencapai 10. Saya begitu benci ketika ingat waktu dulu ibu selalu memukul jari-jari tangan saya dengan penggaris kayu setiap tulisan saya jelek. Saya sangat membeci sikap ibu yang selalu memaksakan kehendak dan selalu didekte saya.

    Dari sederet sikap ibu yang saya benci, tanpa saya sadari ternyata semuanya ada dalam diri saya. Walaupun mulut saya mengatakan bahwa "Saya tidak mau otoriter dan galak seperti ibu", namun jauh dari kesadaran saya, ternyata saya pun telah menjadi serupa dengan ibu saya.

    Sadar atau tidak, suka atau tidak suka, sikap dan teladan ibu telah menjadikan saya pribadi dengan sifat-sifat yang sangat tidak saya sukai. Walaupun saya sangat membenci sikap ibu yang otoriter, namun tanpa disadari saya telah menjadi seorang ibu yang tidak kalah otoriternya. Seperti kata pepatah, "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya", sifat saya pun tidak jauh berbeda dengan sifat ibu saya.

    Saya sangat cemas ketika menyadari bahwa saya telah menjadi pribadi yang saya sendiri tida sukai. Ketika saya menyadari bahwa sikap dan keteladanan orang tua saya, telah ada dalam diri saya, maka saya pun semakin cemas karena hampir bisa dipastikan anak-anak saya pun tida akan jauh berbeda. Saya menyadari, kalau saja saya membiarkan hidup saya mengalir tanpa arah dan tanpa perubahan-perubahan yang berati, maka saya tidak bisa memutus mata rantai, yaitu menurunkan sifat-sifat yang buruk kepada anak saya.

    Belajar dari pengalaman masa lalu, saya mulai menata masa depan dengan memulai perubahan. Saya pun mulai menetapkan visi untuk menjadi orang tua yang bijaksana, efektif dan berkenan di hadapan Tuhan. Dengan sedikit memutar otak, saya berpikir dan berbuat supaya impian saya untuk menjadi orang tua yang bijaksana, efektif dan berkenan di hadapan Tuhan bisa tercapai.

    Walaupun saya berdoa siang dan malam, perubahan tidak begitu saja terjadi. Sampai akhirnya Tuhan menggerakkan hati saya untuk mencari seorang konselor. Saya bersyukur karena Tuhan menolong saya lewat konselor Kristen yang saya datangi.

    Dengan bantuan seorang konselor, saya mengingat kembali kesalahan-kesalahan orang tua yang teah meninggalkan kepahitan dalam diri saya. Konselor itu pun membantu saya membereskan kepahitan masa lalu saya. Dengan penuh kecintaan, saya berusaha mengampuni kesalahan orang tua saya. Kalaupun saya masih mengingat kesalahan orang tua saya, hal itu tidak membuat saya marah atau benci. Saya menggunakan pengalaman pahit saya sebagai peringatan dan pelajaran yang sangat berharga supaya saya tidak melakukan hal yang sama terhadap anak-anak saya. Memang tidak mudah, tetapi melalui seorang konselor Kristen, Tuhan telah mengobati luka batin saya.

    Melalui konseling saya menyadari bahwa ternyata saya perlu belajar ulang bagaimana menjadi orang tua supaya menyenangkan hati anak-anak dan berkenan di hadapan Tuhan. Saya pun terus mencari sumber-sumber pembelajaran, baik melalui buku-buku maupun training pengasuhan dan pendidikan anak.

    Ketegangan lain yang saya tuliskan dalam buku TANGAN YANG MENENUN adalah ketika anak saya berbicara cabul. Waktu itu anak saya duduk di kelas 3 SD mendapat informasi tentang seks dari teman sekolahnya. Serasa disambar petir ketika saya menhadapi kenyataan bahwa "malaikat kecil" saya yang dulu lucu dan menggemaskan, tiba-tiba bermulut tidak senonoh.

    Kembali saya menggunakan keadaan anak untuk bercermin diri. Sayapun akhirnya menyadari bahwa saya telah lalai untuk memberikan pendidikan seks sejak usia dini. Sejak saat itu saya berusaha memperlengkapi diri dengan pengetahuan bagaimana saya harus memberikan pendidikan seks secara tepat sehingga anak-anak saya tidak terjerumus dalam praktek seks pranikah dan terhindar dari tindak pelecehan dan atau tinda kekerasan seksual seperti sodomi, pemerkosaan dan lain-lain.

    Saya sangat beruntung, ketika menemukan LK3 (Layanan Konseling Keluarga dan Karir) yang memiliki kepedulian untuk memperlengkapi kemampuan orang tua dalam hal konseling dan parenting. Seminar pertama yang saya ikuti adalah " Mempersiapkan generasi pantang seks pranikah" yang dibawakan oleh Prof. Dr.dr.Wimpie Pangkahila,Sp.And, FAACS. Saya sangat terberkati dengan seminar yang dibawakan oleh seksiolog yang tidak hanya beridentitas Kristen, tetapi memang seorang kristiani. Melalui seminar tersebut mata saya dibukakan, bahwa mengajarkan seks kepada anak bukan saja merupakan pengajaran yang bersifat duniawi, melainkan merupakan bagian dari pendidikan iman juga.

    Ketika LK3 menawarkan modul-modul CPE atau Conseling and Parenting Educatian, saya langsung tertarik untuk mengikutinya. Saya memang harus menginvestasikan sedikit dana dan waktu supaya saya bisa menjadi orang tua yang efektif dan berkenan di hadapan Tuhan. Hal ini harus saya lakukan karena kecintaan saya terhadap Tuhan dan ana-anak saya.

    Karena begitu tertariknya saya terhadap visi LK3 dan program kursus CPE khususnya,94 ka saya pun memutuskan untuk bergabung secara fulltime di LK3. Ketika anak saya menanyakan mengapa saya harus pindah meninggalkan pekerjaan di kantor yang sudah mapan dan cukup prestisius, hanya untuk mendukung pelayanan LK3, saya pun hanya menjawab bahwa semua itu saya lakukan demi kecintaan saya terhadap Tuhan Yesus dan anak-anak saya.

    Apa yang menarik dari CPE yang dipersembahkan LK3? Program CPE merupakan pembelajaran konseling dan parenting terapan, yang dipersiapkan bagi setiaporang yang peduli konseling dan parenting. Modul pembelajaran tersebut diolah dari pengalaman konseling LK3 dengan ratusan kasus keluarga yang aktual.

    Selain mengintegrasikan teologi dengan psikologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya, CPE juga mengintegrasikan konseling dan parenting. Hal itu bertujuan supaya orang tua, calon orang tua, guru sekolah, guru sekolah minggu maupun aktivis gereja lainnya, dengan mudah bisa menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang diperolehnya, sebagai bagian dari self healing serta untukmenolong kerabat dan sahabat dekatnya.

    Materi CPE dipersiapkan untuk membantu mempersiapkan dan memperkaya pernikahan serta melengkapi peran serta orang tua dalam mendidik anak-anaknya. LK3 tidak hanya menggunakan nara sumber yang profesional, tetapi juga terpangil untuk melayani. Nara sumber tersebut terdiri dari konselor, rohaniwan, psikolog, ahli pendidikan dan seksiolog Kristen, yang didukung oleh pakar media, ahli gizi dan kesehatan, motivator, lawyer, dokter dan psikiater. Pdt. Paulus Kurnia, Pdt. Yakub B. Susabda PhD, Pdt. Dr. Mesach Krisetya, Pdt. Julianto Simanjuntak, Prof. Dr. Dr. Wimpie Pangkahila, Pr. Dr. Taliziduhu Ndraha, Ir.Jonathan Prapak,MSC. Ibu Anne Parapak adalah sebagai nara sumber yang mendukung program CPE - LK3. (Informasi selengkapnya bisa dilihat di : www.lk3web.info )

    Perkembangan Anak dalam Menempuh Pubertas

    Oleh: Bhinuko Warih Danardono

    Perkembangan anak itu sebenarnya lebih cenderung pada perilaku yang ingin tahu tentang apa yang sudah dia lihat. Misalnya dalam dia melihat acara di TV yang ia gemari pada usia anak-anak memang tingkat dari sikap keingintahuan itu muncul sedikit demi sedikit. Menurut Dosen UI Bapak Sarlito mengatakan bahwa anak yang mengalami masa ingin tahunya anak pada obyek itu merupakan tingkat dari masa-masa pubertas atau tingkat menjadi remaja. Lalu persoalannya itu pada bagaimana menyikapinya terhadap obyek yang dia lihat apakah itu berupa sisi positif atau negatif.

    Untuk itu orang tua wajib membimbing putra-putrinya disaat putranya beraktivitas. Mengapa demikian, karena orang tua itu sifatnya sebagai penolong atau membantu agar supaya si anak tidak terjerumus pada lembah hitam. Anak yang pubertas umumnya mempunyai daya insting yang tajam untuk belajar mengetahui sesuai yang diluar akal sehat dia yang tujuannya untuk mendapatkan pelajarannya tersebut.

    Didalam psikologi yaitu tentang psikologi belajar mengatakan bahwa belajar itu tidak harus belajar mata pelajaran yang diberikan oleh guru tetapi belajar itu berbagai macam bentuknya diantaranya belajar jalan, belajar bicara, belajar bertindak tegas, dan lain sebagainya. Inilah yang melandasi dari perilaku seseorang dalam menyikapi tentang belajar. Terkadang belajar itu dapat disimpulkan sebagai penguasaan sesuatu dari obyek untuk diserap diotak selanjutnya di performentkan kedalam bentuk kreatif dan inovatif atas keinginan sendiri agar supaya menjadi berkembang.

    Pada dasarnya dalam menyikapi tentang hal ini bahwa belajar itu tidaklah sulit karena belajar itu atas kemauan kita sendiri yang dimulai dari niat terlebih dahulu lalu usaha dan terakhir bagaimana dia mengembangkan kreasinya itu. Menurut data-data tentang kenakalan remaja yang menyebabkan timbulnya kriminalitas adalah sebenarnya itu atas kendala 3 faktor pada umumnya diantaranya faktor keluarga, lingkungan sekolah, hingga lingkungan masyarakat.

    Sejarah Sekolah Minggu

    Penulis : Tise

    Menurut sejarah, konsep Sekolah Minggu berawal dari Inggris di tahun 1780 dibawah seorang guru bernama Robert Raikes. Pada awalnya, Sekolah Minggu adalah merupakan sebuah sekolah sederhana untuk anak-anak miskin belajar menulis dan membaca, sehinga mereka bisa mengerti apa yang tertulis didalam Alkitab. Pelajaran tersebut juga termasuk menghafal ayat-ayat tertentu dan lagu-lagu rohani. Konsep ini ternyata sangat berhasil dan diikuti oleh banyak gereja. Kemudian suatu gerakan pendidikan muncul akibat dari Sekolah Minggu ini. Orang-orang semakin ingin belajar untuk membaca dan menulis.

    Di Amerika, seorang Uskup dari gereja Methodist bernama Francis Asbury (1745-1816) menerapkan konsep dari Robert Raikes tersebut.

    Sebagai seorang misionaris pada tahun 1771 di Amerika, ia mulai menginjil dengan metoda "Circuit Rider" yang dipelajarinya dari John Wesley. Pada tahun 1786, di Virginia, untuk pertama kalinya sebuah Sekolah Minggu yang modern dimulai.

    Perkembangan Sekolah Minggu kemudian menjadi lebih pesat dengan adanya dukungan dari Lembaga Pendidikan Kristiani Dunia (The World Council of Christian Education), sebuah institusi internasional yang didirikan pada tahun 1947. Institusi ini juga yang mempromosikan berbagai pelatihan dan kurikulum pengajaran Sekolah Minggu.

    John Wesley

    John Wesley (1703-1791) adalah seorang pendeta evangelikal asal Inggris dan pendiri dari Gereja Methodist. Ia dinobatkan sebagai seorang pastor di Gereja Inggris pada tahun 1728, dan kemudian memimpin sekelompok mahasiswa dari Oxford. Mereka disebut "metodis" karena dedikasinya yang sangat sistematis terhadap pengajaran dan tugas-tugas kerohanian yang mereka lakukan.

    Pada tanggal 24 Mei 1738, saat sedang berlangsungnya suatu pertemuan rohani di London, John Wesley merasakan hadirat Allah dan menyatakan bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh dari iman kepada Yesus Kristus. Itulah pesan yang disampaikannya selama sisa hidupnya dengan penuh semangat. Menurut catatan sejarah John Wesley telah menyampaikan lebih dari 40.000 kotbah dan sebagian besar kotbahnya diadakan di ruang terbuka dan rumah-rumah atas saran dari rekannya bernama George Whitefield.

    John Wesly adalah seorang tokoh Kristiani yang sangat menjunjung tinggi kekudusan dalam hidup ke-Kristenan. Adiknya, Charles Wesley (1707-1788) kemudian meneruskan perjuangan John Wesley sebagai pendeta evangelikal Methodist dan pada saat itu Charles juga merupakan seorang pastor dari Gereja Inggris. Charles Wesley telah menulis sekitar 6.500 lagu-lagu gereja, termasuk lagu "Hark! The Herald Angels Sings" yang kerap dinyanyikan saat hari Natal.

    Gereja Methodist

    Gereja Methodist adalah suatu denominasi dari aliran Protestan yang dimulai oleh John Wesley dan adiknya Charles Wesley beserta dengan George Whitfield. Pada awal mulanya, kotbah-kotbah diadalah di tempat-tempat terbuka, di rumah-rumah dan gudang-gudang dan bukan di gereja-gereja.

    Gereja ini berasal dari Inggris dan berkembang ke benua Amerika dibawah pimpinan dari Francis Asbury, walaupun mulainya masuk di New York melalui pendeta Philip Embury pada tahun 1766.

    Gereja Methodist menempatkan Alkitab sebagai dasar ajaran iman satu-satunya. Ajarannya berpegang pada Trinitas, keilahian Kristus, kehidupan yang akan datang, keselamatan hanya oleh iman, pentingnya kehidupan suci, pekerjaan Roh Kudus dalam hati orang-orang percaya, dan gereja Methodist ini memberikan peluang yang besar bagi kaum awam untuk aktif dalam berbagai aktifitas pelayanan gereja.

    Konferensi gereja Methodist pertama diadakan pada tahun 1773 dan kemudian pada tahun 1784 dibentuklah Methodist Episcopal Church. Di Inggris maupun di Amerika, Gereja Methodist terus berkembang menjadi banyak kelompok, dan pada abad 20 mulailah berbagai kelompok tersebut bersatu kembali. Salah satu kelompok dari Gereja Methodist yang terbesar didunia adalah United Methodist Church, dengan 9.000.000 anggota.